Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Wanti-wanti, Founder FPCI Titip 9 Pesan Penting ke Jokowi saat Mau ke Rusia

Wanti-wanti, Founder FPCI Titip 9 Pesan Penting ke Jokowi saat Mau ke Rusia Kredit Foto: Djati Waluyo
Warta Ekonomi, Jakarta -

Founder dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengapresiasi rencana Presiden Jokowi ke Rusia dan Ukraina, untuk mengunjungi Presiden Vladimir Putin dan Volodymyr Zelensky. 

Menurutnya, ini adalah kunjungan internasional Presiden Jokowi yang paling penting di sepanjang tahun 2022.

Baca Juga: Kedatangan Jokowi di Jerman Meriah Banget, Rakyat Beri Sebuket Kembang dan Bentangkan Merah Putih

"Pasti, ini akan menarik perhatian yang besar dari dunia internasional," kata Dino, yang juga mantan Wakil Menteri Luar Negeri dan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat dari sebuah kafe di Jenewa, Swiss, yang disiarkan melalui kanal YouTube FPCI, Minggu (26/6/2022).

Sebagai Ketua FPCI yang merupakan ormas hubungan internasional terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, Dino menyampaikan sejumlah masukan dan pandangan atas rencana kunjungan penting tersebut.

Pertama, misi kunjungan Jokowi ke Ukraina harus jelas. Apakah itu merupakan suatu kunjungan bilateral biasa, terkait G20, atau kunjungan yang membawa misi perdamaian.

"Kalau hanya kunjungan bilateral saja, rasanya kurang pas. Karena saat ini terjadi situasi luar biasa, yaitu perang Ukraina. Kalau dalam konteks G20, untuk urusan mengundang Presiden Putin menghadiri KTT G20 di Bali saja, tentunya Presiden tidak perlu secara fisik jauh-jauh terbang ke Moskow untuk menyampaikan undangan tersebut. Itu bisa disampaikan melalui Duta Besar," papar Dino.

Yang paling pasti, kunjungan ini adalah wujud misi perdamaian Indonesia untuk membantu mengakhiri konflik Rusia-Ukraina. Jika memang benar begitu, Dino berpendapat, Indonesia harus memiliki konsep perdamaian yang jelas, untuk diajukan kepada Putin dan Zelensky.

"Ingat, semua proses perdamaian apa pun di dunia ini, berawal dari konsep. Selain itu, Indonesia juga perlu menetapkan dari awal, apa yang menjadi ambisi keterlibatannya dalam konflik Rusia- Ukraina. Apakah ini suatu peran yang intensif, atau lebih moderat," jelas Dino.

Bicara mengenai konsep perdamaian dalam pertemuan Jokowi dengan Putin dan Zelensky, Dino menyampaikan sejumlah hal yang mungkin dapat dipertimbangkan untuk diusulkan atau diupayakan oleh Indonesia.

"Terserah, apakah akan dilakukan sebagian atau seluruhnya, yang penting ada hal-hal konkret yang bisa diupayakan," ucapnya.

Berikut sembilan hal penting yang disarankan Dino, terkait peran Indonesia dalam membantu konflik Ukraina:

1. Mengupayakan gencatan senjata antara pasukan Rusia dan Ukraina di Ukraina, dalam kurun waktu yang disetujui oleh kedua belah pihak.

2. Mendapatkan komitmen dari Putin dan Zelensky, untuk terus melakukan perundingan politik diplomatik, mencari penyelesaian konflik, dan mengintensifkannya. Mengingat belakangan ini sering macet.

3. Mengupayakan komitmen Putin, agar Rusia tidak melakukan pelanggaran HAM di Ukraina, dan tidak melukai penduduk sipil. Ini adalah suatu hal yang mendasar bagi Indonesia, sebagai bangsa yang memperjuangkan HAM dan bangsa yang berfilosofi Pancasila.

4. Mengupayakan komitmen Putin, untuk tidak menggunakan senjata nuklir dalam perang di Ukraina, dalam situasi dan skenario apa pun.

"Ini penting. Karena sampai sekarang, Putin masih belum jelas 100 persen, apakah akan menggunakan senjata nuklir atau tidak. Bahkan, siaga nuklir Rusia telah ditingkatkan," ucap Dino mewanti-wanti.

5. Indonesia dapat mencoba menjembatani pertemuan Putin dan Zelensky secara langsung. Terlebih, sejak konflik berlangsung, Putin dan Zelensky belum pernah saling bicara atau bertemu. Padahal, Zelensky sudah menyatakan siap bertemu Putin dalam suatu pertemuan tanpa syarat.

"Jadi, kalau Presiden Jokowi bisa mendapatkan komitmen dari kedua presiden, ini adalah suatu terobosan yang luar biasa," tutur Dino.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan