Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Pemerintah Usulkan Petani Kopi Masuk dalam Rantai Bisnis Koperasi, Apa Tujuannya?

Pemerintah Usulkan Petani Kopi Masuk dalam Rantai Bisnis Koperasi, Apa Tujuannya? Kredit Foto: Kemenkop.
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Koperasi dan UKM (Menkop-UKM), Teten Masduki, menyarankan para petani kopi untuk dilibatkan dalam rantai bisnis kopi dan dalam struktur kelembagaan koperasi. Tujuannya supaya pembiayaan dari perbankan maupun lembaga pembiayaan lain lebih mudah masuk sehingga industri kopi di Sumbar semakin bisa berkembang bahkan hingga di kancah global.

Teten menegaskan, secara nasional pemerintah telah menetapkan agar tanah-tanah perhutanan sosial yang dipinjamkan ke petani juga ditanami oleh berbagai bibit produktif, seperti sayur mayur dan kopi. Pasalnya, saat ini isu produksi kopi di Tanah Air adalah terkait produktivitas Indonesia yang masih rendah.

Baca Juga: Gandeng WWF Indonesia, KemenkopUKM Perkuat Ekosistem Bisnis dan Ekonomi Hijau bagi KUMKM

"Produktivitas lahan tanaman kopi kita baru 500-700 kilogram per hektare. Sementara Brazil dan Vietnam sudah sampai ratusan kilogram. Nah ini ada kaitannya dengan kualitas yang ditanam. Sebab di Sumatra Barat ini belum luas lahan kopinya, jadi mudah-mudahan bisa terus diperluas," kata Menteri Teten.

Selain itu, penting bagi petani kopi maupun pelaku usaha coffee shop juga bergabung dengan koperasi. Termasuk agar petani juga bergabung dalam rantai korporatisasi petani.

"Di Aceh sebagai contoh, kopi Arabica Gayo sudah memenuhi permintaan kopi Starbucks tanpa lewat eksportir di Amerika dan Eropa, tapi melalui Koperasi BQ Baburayyan. Ini contoh sukses yang bisa diadopsi koperasi kopi lainnya," ujar Menteri Teten.

Deputi Bidang Kewirausahaan KemenKopUKM Siti Azizah mengatakan, dalam membantu para pelaku usaha coffee shop dan petani dalam mendirikan koperasi, KemenKopUKM menyediakan layanan khusus melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM yang ada di Sumbar.

"Di sana para pelaku usaha bisa mendapatkan pendampingan dan bimbingan sampai koperasi berhasil didirikan. Juga akan dibantu dalam mengakses pembiayaan ke lembaga keuangan. Terkait redesain PLUT KUMKM, kami juga berharap bisa membantu terwujudnya koperasi modern," ucap Azizah.

Sementara Sekda Sumbar Hansastri menambahkan, kopi di Sumbar memang menjadi salah satu yang istimewa. Hal ini terlihat dari banyaknya bermunculan coffee shop yang ada di Sumbar, khusunya di Padang. Diakuinya, minum kopi saat ini sudah menjadi semacam gaya hidup terutama di kalangan generasi muda.

"Produksi kopi di Sumbar ini sebanyak 2.775 ton untuk kopi robusta dengan luas lahan sekitar 18.000 hektare. Total produksi pada tahun 2021 sebanyak 11.278 ton. Di mana jumlah tersebut mampu memenuhi kebutuhan lokal dan nasional, serta ekspor perusahaan kopi. Namun memang kebanyakan dalam bentuk perorangan," katanya.

Penulis: Ayu Rachmaningtyas Tuti Dewanto
Editor: Lestari Ningsih

Bagikan Artikel:

Video Pilihan