Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Transformasi Digital Pasca Pandemi, Network-as-a-Service Makin Diminati

Transformasi Digital Pasca Pandemi, Network-as-a-Service Makin Diminati Kredit Foto: Aruba
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah kebutuhan akan transformasi digital yang berkelanjutan pasca COVID-19, studi terbaru dari Aruba, perusahaan Hewlett Packard Enterprise, menemukan minat terhadap layanan Network-as-a-Service (NaaS) semakin meningkat. Hal ini terjadi ketika para pemimpin teknologi di kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ) mengevaluasi infrastruktur dan jaringan yang mereka gunakan saat ini. 

Survei ini mendapati bahwa ketika sebuah perusahaan mempercayakan 50% dari implementasi jaringan, operasional, dan manajemen life cycle kepada pihak ketiga secara berlangganan, maka NaaS adalah konsep yang dibicarakan oleh 93% perusahaan di Asia Pasifik dan Jepang pada kapasitas tertentu. Bahkan, topik ini sering dibicarakan oleh dua dari lima perusahaan (39%). 

“Di saat kita bangkit dari pandemi, kebutuhan akan kelincahan dan fleksibilitas dalam kepemilikan dan operasional jaringan menjadi sangat besar,” kata Justin Chiah, Senior Director, South East Asia, Taiwan, and Hong Kong (SEATH) di Aruba, perusahaan Hewlett Packard Enterprise. “Kita tahu bahwa NaaS bisa memberikan fleksibilitas besar yang dibutuhkan oleh banyak perusahaan pada saat pemulihan dan selanjutnya, serta memecahkan berbagai masalah, mulai dari masalah keamanan dan skalabilitas, hingga penghematan yang signifikan. Meski sebagian besar perusahaan sudah tahu manfaat NaaS, ada kesenjangan edukasi tentang viabilitas NaaS. Dengan demikian, kita harus fokus untuk menjembatani kesenjangan ini sehingga perusahaan-perusahaan bisa meraih potensi NaaS sepenuhnya.”

Dalam studi ini diketahui alasan mereka tertarik pada NaaS, yakni  efisiensi keuangan adalah salah satu benefit utama yang diharapkan. 82% responden berharap bahwa NaaS dapat membantu mengurangi biaya operasional, dan 51% berpikir bisa beralih dari CapEx ke OpEx. Fleksibilitas yang lebih besar – baik dalam hal jaringan maupun waktu tim – serta keamanan yang lebih maksimal, adalah penggerak utama lainnya.

Lebih dari tiga perempat (77%) perusahaan di APJ setuju bahwa fleksibilitas untuk meningkatkan kapasitas jaringan sesuai kebutuhan bisnis sangat penting bagi mereka, dan 84% merasa itu berpotensi mengubah cara mereka mengelola aktivitas bisnis. Bahkan, sebanyak 71% yakin bahwa fleksibilitas itu akan memberikan mereka lebih banyak waktu untuk menciptakan inovasi-inovasi dan inisiatif-inisiatif yang strategis. Yang penting lainya (50%) responden berharap NaaS bisa membantu mereka mengurangi jumlah staf TI, 

Survei ini juga mendapati sejumlah hambatan yang patut dicermati mungkin terkait dengan proses-proses internal. Kekhawatiran besar yang dicetuskan oleh para pemimpin teknologi antara lain: mendapatkan budget (64%), keinginan untuk tetap mengelola jaringan secara in-house (61%), serta aturan anggaran dan siklus investasi (53%).

Dan hambatan yang lebih fundamental diketahui yakni  kurangnya pemahaman yang menyeluruh mengenai NaaS. Meskipun 100% pemimpin teknologi mengatakan sudah familiar dengan istilah NaaS, hanya 67% yang mengklaim benar-benar memahami arti sebenarnya dari NaaS.

Kesenjangan edukasi masih terlihat dalam persepsi mengenai daya saing NaaS. Hanya 27% dari para pemimpin teknologi yang melihat NaaS sebagai solusi yang mapan dan memiliki viabilitas. Sisanya antara menganggap NaaS sebagai sebuah konsep untuk mencari market (40%) atau sebagai awalan belaka (33%). 

Baca Juga: Ramalan Rocky Gerung Soal NasDem Calonkan Anies Jadi Kenyataan, Surya Paloh Dianggap Kelewatan: Apa Gak Mikir Perasaan Irma?

Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: