Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Permohonan Putra Mahkota Arab Saudi ke Jenderal Luhut, Tak Mau Indonesia seperti China, 'Anda Bikin Apa Saya Ikut'

Permohonan Putra Mahkota Arab Saudi ke Jenderal Luhut, Tak Mau Indonesia seperti China, 'Anda Bikin Apa Saya Ikut' Kredit Foto: Instagram/Luhut Binsar Pandjaitan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan membongkar isi pertemuannya dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman saat kunjungan kerja ke Arab Saudi yang dia lakukan secara rutin empat bulan terakhir ini.

Menurut Luhut, Arab Saudi tidak ingin kehilangan Indonesia sebagai mitra dan ingin berinvestasi. Negara Kerajaan tersebut juga menyampaikan keinginannya untuk berinvestasi di Indonesia.

Baca Juga: Anak Buah Luhut Tegaskan, Siap Dukung Upaya Wujudkan Desa Digital Lewat Kolaborasi dan Inovasi

"Dia bilang, 'Jenderal Luhut, satu yang saya minta. Dia bilang sama menteri-menterinya, pokoknya saya tidak mau kehilangan Indonesia seperti kita kehilangan Tiongkok tahun 80. Kami mau investasi besar di Indonesia'," kata Luhut.

Menko Marves menyebutkan bahwa Arab Saudi ingin berinvestasi di berbagai sektor yang sedang dikembangkan oleh Indonesia. "Anda bikin apa saja saya ikut. Pokoknya saya mau masuk di Ibu Kota, saya masuk di mangrove, saya masuk di high tech, saya masuk di data center, dan seterusnya," kata Luhut menirukan ucapan Mohammed Bin Salman.

Menko Marves menyebutkan bahwa hal tersebut belum pernah terjadi sebelumnya. Dia juga mengatakan bahwa hubungan Indonesia dengan Arab Saudi kini sangat baik hingga memberikan kuota haji tambahan untuk Indonesia.

Baca Juga: BRICS Berharap Mesir, Arab Saudi, dan Turki Segera Gabung dalam Grup karena...

Menurut Luhut, hal itu dilakukan oleh Arab Saudi dikarenakan negara Timur Tengah tersebut melihat Indonesia sebagai suatu negara yang sedang tumbuh dan menjadi tempat investasi yang menjanjikan.

Luhut menyebut bahwa Indonesia adalah negara yang terlalu besar untuk memihak suatu negara lain. Dia menilai bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri dengan sumber daya yang dimilikinya.Menurutnya, kerja sama dengan negara manapun bisa dilakukan selagi itu memberikan keuntungan bagi masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Makin Meresahkan, OJK Temukan 105 Pinjol Ilegal

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Ayu Almas

Advertisement

Bagikan Artikel: