Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Kabar Kematian dan Skenario Bombardir Israel Sudah Biasa buat Anak-anak Gaza

Kabar Kematian dan Skenario Bombardir Israel Sudah Biasa buat Anak-anak Gaza Kredit Foto: NPR/Fatma Tanis
Warta Ekonomi, London -

Seorang ibu dan anaknya tidak menyangka bahwa akan menerima bahaya saat ingin berwisata di pantai. Hala dan putrinya, Layan, yang berusia sembilan tahun ingin bermain di pasir dan bersantai di tepi pantai.

Saat Hala dan keluarganya menuju pantai menumpang kendaraan umum, mereka melewati sebuah kamp militer milik kelompok militan Jihad Islam Palestina (PIJ). Saat mereka melintas, lokasi itu tengah menjadi sasaran serangan Israel.

Baca Juga: 6 Organisasi Masyarakat Sipil Resmi Dibubarkan Israel dengan Dalih...

Sebuah pecahan hasil ledakan menembus leher Layan. Dia tumbang ke lantai. Darah mengalir deras dari tubuhnya. Perawatan intensif di rumah sakit Israel selama satu pekan tidak bisa menyelamatkan nyawanya.

"Saya putus asa," kata Hala. "Saya seharusnya tegas karena saya ibu dari seorang martir, tapi perang ini sangat berdampak kepada saya dan keluarga saya. Semua ini membuat saya benci tinggal di Gaza," tuturnya.

Saat kami berbicara, Hala memegang mainan kecil. Itu adalah hadiah istimewa yang diberikan kepada putrinya seusai tampil dalam pertunjukan tari dabke Palestina.

Saya bertanya apakah dia pikir kematian Layan akan mengubah situasi di Gaza. "Tidak, karena sudah banyak yang terbunuh sebelum dia dan tidak ada perubahan," ujarnya.

"Kematian seperti ini tidak pernah mempengaruhi otoritas di sini. Seolah-olah itu adalah normal."

Setelah eskalasi saling serang antara militer Israel dan milisi Palestina, kematian terjadi di Gaza. Dalam serangan terakhir, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, terdapat 35 warga sipil yang tewas.

Perdana Menteri Israel, Yair Lapid, mengatakan pihaknya mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi masyarakat mereka.

"Israel tidak akan meminta maaf karena menggunakan kekerasan untuk melindungi warganya. Namun kematian warga sipil tak berdosa, terutama anak-anak, sangat memilukan," ucapnya.

Pasukan Pertahanan Israel mengatakan kekerasan itu "hancur oleh kematian [Layan] dan warga sipil mana pun".

Saya mengikuti prosesi pemakaman Layan, dari masjid hingga ke tempat pemakaman.

Kerumunan orang berlari, mengibarkan bendera dan meletuskan tembakan.

Saat tubuhnya diturunkan ke liang lahat, orang-orang mengelilingi kuburan, menyapu pasir dan tanah di atasnya dengan tangan mereka, lalu mematok nisan.

Kuburan kecil yang sama juga muncul di kamp pengungsi Jabalia.

Terdapat lima anak laki-laki yang sedang bermain di kuburan ketika terjadi ledakan.

Israel mengatakan ledakan itu berasal dari roket Jihad Islam Palestina yang gagal meluncur. Tapi kelompok militan menyalahkan Israel.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan akibat yang mengerikan dari ledakan tersebut.

Tubuh anak laki-laki yang tak bernyawa itu diangkat dan dibawa ke rumah sakit.

Keputusasaan merundung seluruh keluarganya, tak yakin entah bagaimana dia bisa selamat.

Korban lain dalam serangan itu adalah Mohammed, yang baru berusia 17 tahun. Semasa hidupnya, dia ingin menjadi polisi, kata ibunya.

"Mereka hanya anak-anak yang bermain. Tiba-tiba, kami mendengar ledakan.

Ayahnya berlari ke tempat kejadian dan membawa putra mereka yang sudah meninggal," katanya.

"Anak-anak kami terbiasa dengan pembunuhan, kematian, dan pengeboman. Mereka berbeda dengan orang lain di seluruh dunia, yang menjalani kehidupan yang baik dan pergi ke taman, bukan kuburan, untuk bermain."

Beberapa jam setelah ledakan di kuburan, sebuah video menjadi viral di TikTok. Khalil Alkahlout langsung berlari ke sana untuk memeriksa anak-anaknya sendiri.

Saat sejumlah jenazah dibaringkan di sekelilingnya, Khalil berteriak dan memukuli dadanya. Seorang teman di sebelahnya merekam kejadian itu.

"Semua ini untuk kepentingan Jihad Islam Palestina," kata Khalil. "Kenapa begitu? Karena ingin Bassem Saadi dibebaskan, tapi itu mengorbankan darah anak-anak kita."

Bassem Saadi adalah pemimpin Jihad Islam Palestina. Dia sempat ditangkap pasukan Israel di Tepi Barat beberapa hari sebelumnya. Penangkapan itu menjadi percikan eskalasi pertempuran terbaru.

Video Khalil di TikTok terus-menerus ditonton dan mendapat banyak ribuan tanda suka. Kritik warga Gaza terhadap kelompok militan Jihad Islam Palestina sangat jarang terjadi.

"Orang-orang menyukai video saya karena sangat tepat," ujar Khalil.

Video itu membuat orang-orang marah. Masyarakat tidak menginginkan perang, tidak menginginkan kematian, tidak ingin anak-anak terbunuh.

"Saya mengatakan bahwa waktu dan eskalasinya ini tidak tepat. Semua orang melihat saya di jalan-jalan dan memberi tahu saya bahwa saya telah mengungkap apa yang selama ini mereka pikirkan, hal-hal yang tidak bisa mereka katakan.

"Mereka berkata kepada saya, 'Kamu melakukan hal tepat' dan ' Bagus sekali'," ujar Khalil.

Israel memulai serangan mereka ke Gaza pada Jumat sore (12/8/2022) pekan lalu.

Israel membuat klaim bahwa mereka menerima informasi soal rencana Jihad Islam Palestina menyerang warga sipil Israel. Dua dari pemimpin kelompok itu terbunuh dalam serangan Israel.

Sepanjang akhir pekan lalu, sekitar 1.000 roket Palestina ditembakkan ke arah Israel. Beberapa warga Israel menderita luka ringan.

Dampak dari setiap konflik ini bukan hanya kematian dan luka-luka.

Saya memanjat masuk melalui dinding dapur Samir yang hancur untuk berbicara dengannya. Cucu perempuannya yang berusia tiga tahun, Tuta, berjalan melewati puing-puing saat kami berbicara.

Samir menggambarkan bagaimana tentara Israel memanggilnya dan menyuruhnya untuk mengumpulkan tetangganya dan pergi karena serangan akan datang.

Mereka lalu berjalan ke pantai. Di sana mereka mendengar bom jatuh dan meledak. Ketika Samir kembali, sebagian besar rumahnya telah menjadi reruntuhan.

"Kami secara psikologis tidak sehat," katanya, "Kami ingin perdamaian, bukan perang."

Baca Juga: UMP Jateng Rp1,9 Juta, Ganjar Pranowo Disentil: Buruh dan Rakyat Jateng Aja Tak Sejahtera, Gimana Mau jadi Presiden!

Baca Juga: Pendukungnya Sebut Anies Kerap Diserang Isu Hoaks, Waketum Partai Garuda Sentil: Jika Tidak Mampu Menari, Jangan Salahkan Lantainya

Halaman:

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Suara.com.

Editor: Muhammad Syahrianto

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: