Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Kabar Kematian dan Skenario Bombardir Israel Sudah Biasa buat Anak-anak Gaza

Kabar Kematian dan Skenario Bombardir Israel Sudah Biasa buat Anak-anak Gaza Kredit Foto: NPR/Fatma Tanis

Samir tidak tahu bagaimana dia akan membangun kembali rumahnya. Ini adalah yang terjadi di seluruh Gaza.

Bahan bangunan sulit didapat. Impor Palestina dibatasi untuk mencegah kelompok milisi memanfaatkannya dalam serangan terhadap Israel.

Blokade darat dan laut Gaza telah diberlakukan oleh Israel dan Mesir sejak kelompok milisi Hamas merebut kendali penuh atas wilayah itu dari Otoritas Palestina dalam pertempuran internal berdarah tahun 2007.

Blokade dijatuhkan setahun setelah Hamas memenangkan pemilihan umum terakhir.

Blokade telah melumpuhkan ekonomi, tapi Israel mengatakan itu perlu untuk alasan keamanan. Artinya, dampak fisik akibat konflik kerap tidak ditangani.

Bangunan tinggi yang hancur dan rata dengan tanah belum dibersihkan. Fondasi bangunan yang bengkok masih terlihat.

Bangunan lain dibersihkan tapi dibiarkan kosong dan kosong. Kecil kemungkinan bangunan yang sudah hancur ini akan dibangun kembali.

Ini adalah alasan lain mengapa warga Gaza begitu cemas setiap eskalasi baru pertempuran muncul.

Hamas menguasai Jalur Gaza. Kelompok ini ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS, Inggris, dan beberapa negara lainnya.

Hamas berkata bahwa tujuan organisasi mereka adalah mengakhiri pendudukan Israel dengan segala cara, termasuk dengan angkat senjata.

Hamas memiliki banyak senjata, yang selama ini telah mereka gunakan untuk menyerang kota-kota di perbatasan Israel.

Namun kali ini Hamas tidak ikut dalam eskalasi pertempuran, walau Israel dan sebagian besar pengamat menilai segala serangan pasti melalui persetujuan mereka.

Semua roket yang ditembakkan dari Gaza berasal dari Jihad Islam Palestina, kelompok yang lebih kecil ketimbang Hamas. Mereka menguasai sejumlah peralatan tempur yang kurang canggih.

Beberapa roket kelompok ini salah sasaran bahkan jatuh di komunitas Palestina sehingga menyebabkan kematian dan korban luka.

Fakta bahwa Hamas tidak terlibat dalam pertempuran terakhir ini menunjukkan eskalasi terbaru tetap terkendali. Situasi saling serang berlangsung selama tiga hari sebelum Israel dan Jihad Islam Palestina menyepakati gencatan senjata.

Jika Hamas turut serta, banyak kalangan yakin dampaknya akan jauh lebih besar dan berpotensi memicu perang baru.

Baca Juga: PAN Jateng Dukung Pencapresan Ganjar Pranowo, Pengamat: Bisa Dapat Tiket Capres KIB

Baca Juga: Asal Muasal Presidential Threshold 20 Persen Gegara Kemenangan SBY di Pilpres 2004, Ini Nih Biang Keroknya

Halaman:

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Suara.com.

Editor: Muhammad Syahrianto

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: