Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Wärtsilä Energy Optimis Transisi Energi Indonesia Berjalan Mulus

Wärtsilä Energy Optimis Transisi Energi Indonesia Berjalan Mulus Kredit Foto: Antara/Nova Wahyudi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Melalui pemodelan sistem energi, Wärtsilä mengungkap bahwa sistem energi terbarukan, yang didukung oleh mesin penyeimbang jaringan listrik dan penyimpanan energi, dapat memungkinkan Indonesia mencapai netralitas karbon pada 2060. 

Direktur Sales, Indonesia, Wärtsilä Energy Febron Siregar, mengatalan potensi ini akan memangkas biaya listrik rata-rata (LCOE) lebih dari 20 persen saat menghitung potensi pajak karbon di masa depan. 

"Dengan kebutuhan listrik Indonesia yang naik 4 persen per tahun, pemodelan sistem energi dari Wärtsilä menunjukkan bahwa sistem energi terbarukan (yang didukung kapasitas fleksibel) dapat menjawab tantangan tersebut tanpa menambah biaya produksi listrik," ujar Febron dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (14/9/2022). 

Baca Juga: Kampanyekan Energi Bersih, PLN Gandeng Pemda Riau Gelar Konvoi Kendaraan Listrik

Febron mengatakan secara khusus, ketika menghitung perkiraan nilai ekonomi karbon (carbon pricing) dari Badan Energi Internasional (IEA), studi terkait menunjukkan biaya listrik rata-rata dalam skenario ‘Netralitas Karbon’ lebih rendah 23 persen dibanding skenario ‘Business as Usual’ dari pemodelan yang tidak membatasi emisi.

Secara keseluruhan, Wärtsilä menyusun empat skenario terhadap transisi energi di Indonesia pada 2060. Pertama, skenario ‘Business as Usual’ yang tidak memiliki batasan emisi. Di sini, Pulau Sulawesi akan melepaskan 12,5 juta ton emisi CO2 pada 2060 yang membuat target netralitas karbon semakin sulit dicapai.

"Selanjutnya, ada skenario ‘Pengurangan Emisi 50 persen’ dan ‘Pengurangan Emisi 80 persen' yang mampu mencapai pengurangan emisi masing-masing sebesar 50 persen dan 80 persen pada 2060 jika dibandingkan dengan skenario ‘Business As Usual’," ujarnya.

Adapun yang terakhir adalah skenario ‘Netralitas Karbon’, yakni sistem energi yang diproyeksikan beroperasi dengan netralitas karbon pada 2060.

Lanjutnya, proses dekarbonisasi adalah proses bertahun-tahun yang menuntut perencanaan matang, namun target Indonesia menuju ekonomi netralitas karbon dapat dilakukan jika sektor energi sigap mengambil tindakan yang diperlukan saat ini dan beberapa dekade mendatang untuk mewujudkan masa depan netralitas karbon pada 2060.

“Dengan beralih ke sistem energi terbarukan yang fleksibel pada 2060, Indonesia dapat melakukan lebih dari sekadar mengurangi emisi. Ini dapat mengubah sektor energi sehingga bisa melayani ribuan pulau dengan lebih baik sambil memastikan bahwa setiap orang memiliki akses ke listrik yang ramah lingkungan dan andal. Namun, para pemangku kepentingan perlu merencanakan perubahan transformatif dalam lima hingga delapan tahun ke depan atau peluang akan tertutup," ungkapnya. 

Hasil studi yang diterbitkan dalam laporan bertajuk Meninjau Ulang Energi di Asia Tenggara, menyimulasikan langkah-langkah menuju netralitas karbon di tiga sistem energi utama Asia Tenggara, yakni Vietnam, Pulau Sulawesi di Indonesia, dan Pulau Luzon di Filipina

Baca Juga: Gempar! Jokowi Disebut Ingin Pasangkan Ganjar Pranowo dengan Prabowo Subianto di Pilpres 2024, Pengamat: Infonya dari...

Penulis: Djati Waluyo
Editor: Rosmayanti

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: