Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Investasi Asing Tumbuh Pesat, Menteri Bahlil: Hilirisasi Jadi Proyek Paling Besar!

Investasi Asing Tumbuh Pesat, Menteri Bahlil: Hilirisasi Jadi Proyek Paling Besar! Kredit Foto: Alfida Rizky Febrianna
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia melaporkan bahwa realisasi penanaman modal asing (PMA) sepanjang 2022 mencapai Rp654,4 triliun atau setara dengan 54,2% dan tumbuh 44,2% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

"Jadi, kita harus bersyukur bahwa di tengah kegelapan ekonomi global, investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke Indonesia masih tetap tumbuh sebesar 44,2%. Ini adalah sebuah kepercayaan yang harus diakui," ujar Bahlil, dalam konferensi pers, yang diikuti Selasa (24/1/2023) kemarin.

Baca Juga: Tingkatkan Investasi dan Daya Saing Ekonomi, Menko Airlangga Genjot Sektor Logistik Lewat NLE

Bahlil menyampaikan, pertumbuhan PMA itu paling banyak disumbang oleh sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya, yakni sebesar US$11,0 miliar atau 24,0%.

Disusul oleh sektor pertambangan sebesar US$5,1 miliar, sektor industri kimia dan farmasi US$4,5 miliar; sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi US$4,1 miliar; serta sektor listrik, gas, dan air US$3,8 miliar.

Sementara, jika dilihat berdasarkan proyek, Bahlil mengatakan, nilai investasi paling besar mengalir untuk proyek hilirisasi. "Projek yang paling besar tahun ini itu adalah masih tetap hilirisasi," ujarnya, kepada wartawan usai konferensi pers.

Pada hilirisasi ini, Bahlil menyampaikan, pihaknya tak hanya fokus pada hilirisasi sektor pertambangan atau minyak dan gas, yang termasuk metanol, pupuk, blue amonia. "Kita akan mendorong keberhasilan hilirisasi tidak hanya di sektor pertambangan dan oil and gas, tetapi juga pada pangan, perikanan dan perhutanan," sambungnya.

Bahlil menuturkan, salah satu cara memajukan Indonesia adalah melalui hilirisasi. "Karena Indonesia ini, udah lah, kalau kita mau maju, hilirisasi. Gak ada cara lain," pungkasnya.

Ia lalu mengambil contoh dari beberapa negara yang sebelumnya sudah melakukan hilirisasi secara masif, seperti Inggris pada abad ke-16.

"Lalu, Amerika pada abad ke-19 dan 20 mempergunakan pajak progresif pajak impor untuk hilirisasi. China tahun 80-an dia mem-protect industri dalam negerinya dengan TKDN 90%, tujuannya hilirisasi," paparnya.

Kemudian, Bahlil menyebut hilirisasi juga dilakukan oleh Firlandia pada tahun 1986 dengan menetapkan investasi asing yang masuk, sahamnya tidak boleh pegang lebih dari 20%. "Tujuannya apa? Nasionalisasi dan hilirisasi," katanya.

"Jadi kita harus belajar sama mereka yang sudah maju itu lah," tutup Bahlil.

Baca Juga: Lampau Kinerja Pra Pandemi, Penyaluran KPR BCA Capai Rp 108,3 Triliun pada 2022

Penulis: Alfida Rizky Febrianna
Editor: Puri Mei Setyaningrum

Advertisement

Bagikan Artikel:

WE Academy

Aspek Hukum Perkreditan & Administrasi Kredit

Aspek Hukum Perkreditan & Administrasi Kredit

Lihat Semua