Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

FBI Yakin Banget Hacker Korea Utara Adalah Maling yang Curi Uang Rp1,4 Triliun, Bukti-buktinya...

FBI Yakin Banget Hacker Korea Utara Adalah Maling yang Curi Uang Rp1,4 Triliun, Bukti-buktinya... Kredit Foto: Reuters/Kim Hong-Ji
Warta Ekonomi, Washington -

Biro Ivestigasi Federal (FBI) telah menuding para peretas Korea Utara (Korut) sebagai dalang di balik pencurian aset kripto milik perusahaan California Juni lalu.

FBI menyampaikan klaimnya itu pada Senin (23/1/2023) malam waktu setempat, menyebut nilai mata uang kripto yang digondol para 'hacker' Korut mencapai hingga USD100 juta (Rp1,49 triliun).

Baca Juga: Belasan Dokumen Rahasia Disembunyikan Joe Biden, Terkuak Lewat Penggeledahan Rumahnya oleh FBI, Ada Apa?

FBI mengatakan pihaknya 'bisa mengonfirmasi' bahwa pencurian itu adalah ulah dari Lazarus Group, kelompok hacker yang terkait dengan pemerintah Korut, yang  juga dikenal sebagai APT38. 

Grup itu dikatakan telah bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan Horizon Bridge, yang dijalankan oleh perusahaan mata uang kripto bernama Harmony, pada tahun 2022. 

Para hacker itu menggunakan Horizon Bridge, jembatan blockchain, untuk mentransfer mata uang kripto di antara jaringan blockchain lainnya.

Kemudian pada bulan ini, kata FBI, para aktor dunia maya itu menggunakan sistem Railgun untuk mencuci token senilai USD60 juta lebih, yang mereka ambil selama pencurian Juni 2022 lalu. 

Railgun adalah sistem yang dirancang untuk membantu menjaga anonimitas orang yang memindahkan mata uang kripto. 

Sebagian dari ether yang dicuri itu lalu dikirim ke beberapa penyedia layanan aset virtual dan diubah menjadi bitcoin, kata FBI, dalam pernyataannya, sebagaimana dilansir CNBC News.

FBI mengatakan 'sebagian' dari USD60 juta yang dicuri telah dibekukan, tetapi tidak menyebutkan berapa banyak.

Firma analitik blockchain Elliptic, selama peretasan, juga mengatakan bahwa ada 'indikasi kuat' Lazarus berada di balik serangan tersebut. Hampir seketika, para hacker itu mencoba untuk memindahkan dana melalui cara-cara mengaburkan identitas mereka.

Mengutip CNN, kasus ini menjadi salah satu dari serangkaian perampokan digital yang mana dikhawatirkan oleh pejabat AS akan digunakan Pyongyang untuk mendanai program senjata nuklir dan balistik terlarangnya. 

Para hacker Korut, bagaimanapun, telah melakukan pelakukan pencurian digital dalam beberapa tahun terakhir, dengan nilai setara miliaran dolar. Dalam aksinya, mereka merampok pertukaran mata uang kripto, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tahun lalu pun, dengan nilai mata uang kripto yang anjlok, aksi peretasan dari Korut masih terlanjut. April lalu, FBI juga menyalahkan para hacker yang didukung Pyongyang atas kasus peretasan USD600 juta dari perusahaan video game populer, Axie Infinity.

FBI berjanji akan terus mengidentifikasi dan menghentikan pencurian virtual semacam itu, yang digunakan untuk mendukung program rudal balistik serta apa yang digambarkan sebagai 'Senjata Pemusnah Massal Korut'.

Baca Juga: Sekda Provinsi Bali Buka Turnamen Tenis Lapangan Bapor KORPRI Bali Tahun 2023

Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Warta Ekonomi dengan Akurat.

Editor: Muhammad Syahrianto

Advertisement

Bagikan Artikel: