Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Industri Fintech Indonesia Punya Potensi Besar, Pemain Tumbuh 600% dalam Satu Dekade Terakhir

Industri Fintech Indonesia Punya Potensi Besar, Pemain Tumbuh 600% dalam Satu Dekade Terakhir Kredit Foto: Boston Consulting Group
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sebuah laporan mengenai sektor fintech yang berkembang pesat di Indonesia berjudul Indonesia's Fintech Industry is A Sleeping Giant Ready to Rise yang dirilis baru-baru ini oleh perusahaan modal ventura AC Ventures (ACV) bersama dengan perusahaan konsultan global Boston Consulting Group (BCG) mencatat bahwa industri fintech di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dilihat dari berbagai sisi dalam satu dekade terakhir.

"Seperti yang ditunjukkan oleh analisis komprehensif kami, industri fintech di Indonesia sedang booming dan menunjukkan potensi pertumbuhan yang luar biasa dari ekonomi digital negara ini. Ini adalah waktu yang menarik untuk inovasi yang dipimpin oleh kebutuhan pelanggan, kolaborasi antara pemain fintech, dan lebaga keuangan tradisional, badan regulasi, dan visi regulasi," tutur Maganing Director & Partner di Boston Consulting Group Sumit Kumar seperti dikutip dari pernyataannya pada Jumat (31/3/2023).

Dengan memetakan kemajuan teknologi keuangan di Indonesia melalui beberapa subvertikal yang dimulai dari awal kemunculan startup fintech dan ekonomi digital lokal pada tahun 2011 hingga 2022, laporan tersebut menyoroti dan membahas mengenai perkembangan segmen pembayaran (payments), pinjaman (lending), dan wealthtech sebagai kekuatan utama dalam ekosistem fintech yang terlihat di Indonesia saat ini.

Baca Juga: Startup Rantai Pasok Baskit Kantongi Dana Segar US$1,5 Juta

Berdasarkan hasil laporan, jumlah pemain fintech di Indonesia telah tumbub lebih dari 6005 dalam satu dekade terakhir, dari 51 pada tahun 2011 menjadi 334 pada tahun 2022. Pertumbuhan ini pada awalnya didorong oleh segmen pembayaran namun saat ini lanskap fintech di Indonesia sudah semakin beragam dan dinamis di mana sektor pinjaman, pembayaran, dan wealthtech menjadi industri masa depan yang menjanjikan. Fintech Indonesia juga semakin matang dan bergerak menuju produk dan layanan yang lebih canggih ditandai dengan kemunculan segmen baru seperti software-as-service (SaaS) dan insurtech.

Penawaran fintech di Indonesia juga mengalami lonjakan keterlibatan pelanggan (customer engagement) di mana segmen pembayaran yang memiliki lebih dari 60 juta pengguna aktif pada tahun 2020 diperkirakan akan memiliki tingkat CAGR sebesar 26% hingga tahun 2025. Di sektor pemberian pinjaman, terdapat lebih dari 30 juta akun peminjam peer-to-peer yang aktif pada tahun 2021. Sementara itu pada segmen wealthtech memiliki 9 juta investor ritel pada tahun 2022. Di sisi lain, adopsi platform SaaS juga semakin meningkat dengan 6 juta UMKM saat ini telah menggunakannya, mewakili ekspansi 26 kali lipat selama tiga tahun sebelumnya.

Bersamaan dengan perkembangan pemain lama yang semakin mapan, pemain baru di pasar fintech Indonesia juga terus bermunculan. Dalam investasi, tren investasi saat ini mencerminkan diversifikasi pasar fintech di mana segmen pemberian pinjaman dan pembayaran tidak lagi menjadi area utama yang diminati meskipun kedua segmen ini tetap memiliki posisi yang penting. Namun dekimian kini investasi juga telah meningkat pada segmen wealthtech, insurtech, dan fintech SaaS.

Ekuitas dalam pasar fintech Indonesia ini ditentukan berdasarkan tingkat kematangan operator atau vertikal. Kesepakatan pendanaan tahap awal (early-staged funding) menerima lebih dari 80% dari total modal yang diinvestasikan. Pendanaan dari tahun 2020 hingga tahun 2022 mencapai US$5,4 miliar atau 2,7 kali lebih banyak dari periode 2017 hingga 2019. Pertumbuhan dan monetisasi adalah fokus utama dalam putaran pendanaan seri D+.

Mengingat iklim ekonomi saat ini, investor kini mencari jalur yang jelas menuju profitabilitas sebelum mencapai seri D. Lebih dari 80% kesepakatan pendanaan di sektor fintech yang terjadi sejak 2020 hingga 2022 terjadi pada tahap pendanaan awal sebelum mencapai seri C. Hal ini menunjukkan dukungan yang kuat untuk inovasi awal.

Kecenderungan ini kemungkinan akan terus mendorong inovasi dan mendisrupsi lanskap layanan keuangan yang ada. Menjadi bagian dari investor paling aktif di industri fintech Indonesia, Founder & Managing Partner AC Ventures Adrian Li menyampaikan bahwa industri fintech di Indonesia sedang berkembang pesat dan menawarkan prospek pertumbuhan yang besar.

"Peningkatan eksponensial jumlah oemain fintech, meningkatnya keterlibatan pelanggan, dan pendanaan ekuitas yang meningkat semuanya merupakan indikasi potensi sektor yang besar. Strategi investasi kami sejalan dengan perusahaan yang paling berdampak dan inovatif dalam ruang ini. Laporan fintech ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami di AC Ventures untuk terus mendukung dan berinvestasi di sektor fintech lokal yang berkembang pesat guna mendukung terwujudnya ekosistem keuangan yang inklusif di Indonesia," ujar Adrian.

Baca Juga: Kenapa Harga iPhone Mahal Dibandingkan Smartphone Lain?

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Tri Nurdianti
Editor: Rosmayanti

Advertisement

Bagikan Artikel: