Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Ekonom: Indonesia Alami Deindustrialisasi Prematur selama 20 Tahun Terakhir

Ekonom: Indonesia Alami Deindustrialisasi Prematur selama 20 Tahun Terakhir Kredit Foto: WE
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pakar ekonomi Awalil Rizky mengatakan bahwa Indonesia mengalami deindustrialisasi prematur yang terus berlanjut. Ia menyebut bahwa porsi industri manufaktur Indonesia atas Pendapatan Domestik Bruto (PDB) terus menurun dan lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Sejak tahun 2012 itu sektor industri pengolahan (manufaktur) tumbuh lebih rendah dari keseluruhan sektor di PDB,” ujarnya dalam diskusi virtual Hilirisasi, Industrialisasi, dan Ekonomi Arah Baru yang diadakan Narasi Institute, Jumat (7/7/2023).

Menurut data yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS), industri manufaktur di Indonesia tumbuh lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia, yakni pada tahun 2022 persentase pertumbuhannya hanya 4,89%. Meskipun angka ini sudah jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya, namun angka ini masih lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi, yakni 5,31%. 

Baca Juga: Sebut Hilirisasi Bisa Bawa Indonesia Jadi Negara Maju, Ekonom: Lawan Intervensi IMF!

Sebagaimana diketahui, deindustrialisasi prematur adalah kondisi yang terjadi ketika porsi manufaktur terus merosot terhadap PDB sebelum negara mencapai tingkat berpendapatan menengah atau tinggi.

Awalil menilai selama 20 tahun terakhir, Indonesia terus mengalami deindustrialisasi prematur karena porsi manufaktur Indonesia belum bisa menjadi sektor yang dominan dalam PDB.

“Yang terjadi ini adalah deindustrialisasi prematur selama 20 tahun terakhir, dan lebih kuat di delapan tahun terakhir. Itu membuat pertumbuhan ekonomi tidak bisa tinggi dan kurang berkualitas. Kurang berkualitas (berarti) tidak mampu menyerap banyak tenaga kerja, yang tidak mendorong keterkaitan antarsektor untuk sama-sama tumbuh, (dan) tidak memperkuat struktur ekspor,” bebernya.

Awalil juga menyebut bahwa dalam industri manufaktur, justru yang berkembang pesat adalah industri berteknologi rendah, seperti industri makanan dan minuman. Industri berteknologi menengah, seperti industri batu bara dan pengilangan migas mengalami penurunan. Untuk industri berteknologi tinggi, seperti industri farmasi dan barang logam, mengalami juga penurunan.

“Dalam 10 tahun terakhir tampak bahwa teknologi rendahnya yang bertambah, dari 46,51% menjadi 54,43%. Yang menengah turun, yang tinggi stagnan,” ujarnya mengutip data dari BPS.

Ia mengungkapkan bahwa hal ini tidak akan menjadi masalah jika pemerintah benar-benar memiliki rencana strategis untuk sektor manufaktur ke depannya.

Baca Juga: Untuk B100, Pengusaha Sawit: Minimal Butuh Pasokan CPO 36 Juta Ton Per Tahun

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ni Ketut Cahya Deta Saraswati
Editor: Rosmayanti

Advertisement

Bagikan Artikel: