Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Kabar Sawit
Video
Indeks
About Us
Social Media

Gas Jadi Jembatan Transisi Energi, Bahlil: Rp 2.600 Triliun Lebih Mahal dari Batu Bara

Gas Jadi Jembatan Transisi Energi, Bahlil: Rp 2.600 Triliun Lebih Mahal dari Batu Bara Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti peran gas sebagai jembatan transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Ia memperingatkan bahwa penggunaan gas dalam skenario transisi energi akan berdampak signifikan terhadap biaya energi yang disalurkan ke masyarakat.

“Tingkat kemahalan selisih antara batu bara dan gas. Satu gigawatt itu kita membutuhkan 25 kargo. Jadi kalau 20 gigawatt yang kita akan rencanakan sampai 2040, itu sama dengan kita membutuhkan 500 kargo dan 130 triliun kali 20. Berarti berapa itu? Sekitar 2.600 triliun lebih mahal ketimbang batu bara,” ujar Bahlil di Jakarta, Kamis (30/01/2025).

Lebih lanjut, Bahlil juga menyoroti dampak penggunaan gas terhadap program hilirisasi yang tengah difokuskan pemerintah. Dengan kebutuhan 20 gigawatt yang diproyeksikan, ia khawatir seluruh produksi gas nasional akan diserap oleh PT PLN (Persero) untuk pembangkit listrik.

Baca Juga: Gas Jadi Jembatan Transisi Energi, Begini Kata Dirut PGN

“Artinya, seluruh produksi gas kita hampir semua dipakai dibakar untuk PLN,” lanjutnya.

Menurutnya, jika seluruh gas digunakan untuk sektor kelistrikan, maka biaya produksi energi akan meningkat drastis. Selain itu, ia mempertanyakan ketersediaan bahan baku energi lain untuk mendukung hilirisasi industri dalam negeri.

“Karena saya nggak bisa membayangkan bahwa itu semua, kalau gas itu dipakai semua untuk listrik, dari cost-nya tinggi, terus bahan-bahan kita untuk bikin hilirisasi pakai apa,” sambungnya.

Baca Juga: Meski Transisi Energi, Bahlil Tetap Dorong RI Produksi Batu Bara Secara Masif

Bahlil juga membagikan pengalamannya setelah melakukan kunjungan kerja ke India bersama Presiden Prabowo Subianto. Dari hasil diskusinya dengan para pejabat India, ia menilai bahwa negara tersebut masih melakukan kombinasi antara energi fosil dan energi terbarukan dalam transisi energi mereka.

“Saya kemarin dari India, saya diskusi dengan beberapa menterinya, ya polusi kan kita mungkin jauh lebih baik lah ketimbang di sana. Saya tanya sama mereka, bagaimana? Saya bilang, ya biarkan saja tapi kan negara kami ada anggaran kami masih ada yang harus kami prioritaskan. Dan mereka mendukung green energy, tapi tidak serta-merta semuanya dipakai untuk itu. Jadi mereka blending antara batu bara, matahari, dan angin. Cina pun melakukan hal yang sama,” tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: