Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Kabar Sawit
Video
Indeks
About Us
Social Media

Pemanfaatan AI Harus Cerminkan Realitas di Lapangan, Wamenkomdigi Undang Stakeholder Susun Regulasi

Pemanfaatan AI Harus Cerminkan Realitas di Lapangan, Wamenkomdigi Undang Stakeholder Susun Regulasi Kredit Foto: OctaFX
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan pentingnya keterlibatan pemangku kepentingan (stakeholder) dalam pengembangan regulasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada Opening Remarks Dialog Kebijakan AI di Hotel Le Meridien Jakarta Pusat, Kamis (30/1/2025).

Dalam penyusunan kebijakan yang akan mengoptimalkan manfaat AI sekaligus memitigasi risiko pemanfaatan teknologi AI, Pemerintah membuka ruang bagi industri, akademisi, NGO, dan masyarakat luas untuk berkontribusi dan berkolaborasi di dalamnya.

Baca Juga: RI-India Semakin Erat Bangun Ekosistem Digital yang Inklusif dan Berkelanjutan

“Keterlibatan proaktif seluruh pemangku kepentingan dalam regulasi dan pengembangan AI sangat penting, sehingga peluang untuk menjadi bagian dari ekosistem AI global dan pemanfaatan teknologi AI yang bermakna di dalam negeri bisa tercapai,” tegas Wamenkomdigi, dikutip dari siaran pers Komdigi, Jumat (31/1).

Sebagai langkah awal, Kementerian Komdigi menginisiasi Dialog Kebijakan AI, yang akan berlangsung dalam tujuh sesi diskusi. Setiap sesi akan membahas potensi dan tantangan AI di berbagai sektor, mulai dari e-commerce, perbankan dan keuangan, kesehatan, pendidikan, ekonomi kreatif, keberlanjutan, hingga isu lintas sektor (cross-cutting issues). Diskusi pertama diawali dengan sektor e-commerce, yang telah menjadi tulang punggung ekonomi digital Indonesia.

Menurut Nezar Patria, sektor e-commerce memiliki potensi besar untuk memanfaatkan AI, terutama dengan proyeksi pasar yang diperkirakan mencapai USD150 Miliar pada tahun 2030. Namun, ia juga menyoroti tantangan yang harus dihadapi dalam integrasi teknologi ini, termasuk privasi dan keamanan data, pertukaran data lintas negara, serta potensi penyalahgunaan teknologi yang perlu diantisipasi secara cermat.

“Dengan proyeksi pasar e-commerce Indonesia mencapai USD 150 miliar pada tahun 2030, kita harus memastikan adopsi AI di sektor ini memberikan manfaat maksimal bagi konsumen, pelaku usaha, dan masyarakat luas,” ungkapnya.

Nezar Patria menyatakan teknologi AI dapat meningkatkan efisiensi operasional, personalisasi layanan pelanggan, serta optimalisasi rantai pasok global.

“Secara struktural integrasi ke rantai pasok global, khususnya di teknologi baru atau emerging teknologi ini. Hingga tantangan spesifik yang terkait dengan sektor digital seperti privasi dan keamanan data, pertukaran data lintas negara, hingga potensi penyalahgunaan teknologi perlu ditangani dengan tepat,” jelasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Advertisement

Bagikan Artikel: