Kredit Foto: Istimewa
Emiten jasa pertambangan batu bara milik pengusaha Low Tuck Kwong, PT Samindo Resources Tbk (MYOH), memperpanjang kontrak jasa pertambangan dengan PT Kideco Jaya Agung hingga 2029. Perpanjangan kontrak tersebut menjadi langkah strategis perseroan untuk menjaga kesinambungan kinerja usaha di tengah dinamika industri batu bara global.
Manajemen MYOH menyampaikan bahwa kontrak di site Kideco berhasil diamankan untuk periode lima tahun ke depan, memberikan kepastian pekerjaan jangka menengah bagi perseroan. Informasi tersebut diungkapkan dalam paparan Public Expose yang disampaikan melalui keterbukaan informasi pada Jumat (2/1/2025).
“Perseroan telah berhasil memperpanjang kontrak jasa pertambangan di site Kideco selama 5 tahun hingga 2029,” tulis manajemen.
Baca Juga: Pajak Batu Bara Diprotes Pengusaha, Purbaya: Saya Subsidi yang Kaya, Wajar Tidak?
Seiring dengan perpanjangan kontrak tersebut, Samindo juga membuka peluang untuk memperoleh kontrak baru, baik untuk pekerjaan overburden (OB) maupun coal-getting. Langkah ini diarahkan untuk memperluas portofolio proyek dan menjaga stabilitas pendapatan perseroan dalam jangka menengah hingga panjang, khususnya di tengah siklus harga batu bara yang fluktuatif.
Untuk 2025, MYOH mengestimasi realisasi coal-getting mencapai 5,4 juta ton dengan volume hauling sekitar 24.000 K ton. Sementara pada 2026, perseroan menetapkan target produksi yang lebih konservatif, yakni 4,5 juta ton, dengan volume hauling yang tetap dipertahankan di level 24.000 K ton. Penyesuaian target tersebut mencerminkan kehati-hatian perseroan dalam merespons kondisi pasar.
Manajemen menjelaskan, tekanan terhadap kinerja perseroan sempat terjadi pada kuartal III-2025. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain pelemahan harga batu bara global yang mendorong sejumlah operator tambang menahan laju produksi. Selain itu, curah hujan yang tinggi hingga akhir tahun turut menghambat aktivitas operasional di lapangan.
Kendala lain juga muncul dari isu keselamatan kerja di anak usaha PT SIMS, yang sempat menyebabkan penghentian sementara operasional selama beberapa hari. Faktor-faktor tersebut secara kumulatif memengaruhi tingkat utilisasi dan produktivitas perseroan dalam periode tersebut.
Meski demikian, manajemen menilai tekanan harga batu bara telah mencapai titik terendahnya pada 2025. Dengan asumsi pemulihan permintaan, perseroan melihat adanya peluang perbaikan kinerja pada tahun berikutnya.
“Harga batu bara di 2025 telah mencapai titik terendahnya. Perseroan optimistis akan terjadi pemulihan permintaan dan potensi kenaikan harga tipis di tahun mendatang dibandingkan realisasi tahun ini,” tutur manajemen.
Baca Juga: Tarif Bea Keluar Batu Bara Bakal Melejit ke 11%? Wamen ESDM Beri Penjelasan
Di sisi lain, MYOH juga menyoroti kinerja segmen usaha terkait, khususnya bisnis sewa kendaraan melalui PT Transkon Jaya Tbk (TRJA). Pelemahan harga batu bara sepanjang 2025 berdampak pada penurunan aktivitas pertambangan, yang berujung pada berkurangnya permintaan penyewaan kendaraan 4x4 di area tambang.
Manajemen menyampaikan bahwa perseroan tengah mengkaji langkah ekspansi dan diversifikasi layanan TRJA agar tidak sepenuhnya bergantung pada kontrak jangka pendek di sektor batu bara.
“Perseroan tengah mengkaji ekspansi dan diversifikasi layanan TRJA, agar bisnis ini tidak semata bergantung pada kontrak jangka pendek di sektor batu bara,” kata manajemen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait:
Advertisement