Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Klaim Maduro Tertangkap, Harga Minyak Dunia Berguncang?

Trump Klaim Maduro Tertangkap, Harga Minyak Dunia Berguncang? Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dunia dikejutkan oleh eskalasi militer besar-besaran di Amerika Latin. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan khusus AS telah melakukan operasi militer di Caracas yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Di tengah kepulan asap dari serangan udara di ibu kota Venezuela, isu penguasaan cadangan minyak terbesar di dunia kini menjadi pusat perhatian pasar energi global.

Operasi yang diluncurkan pada Sabtu (3/1/2026) dini hari tersebut melibatkan serangan udara ke sejumlah titik strategis, termasuk pangkalan udara La Carlota dan kompleks militer Fuerte Tiuna. Namun, dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, pada Sabtu (3/1/2026) siang waktu setempat, Trump secara terbuka mengaitkan operasi militer ini dengan pengelolaan sumber daya energi Venezuela.

Baca Juga: Beperan Penting Topang Industri Nasional, Kemenperin Perkuat Industri Penunjang Migas

”Kami akan mengerahkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar—yang terbesar di dunia—untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang hancur, dan mulai menghasilkan uang bagi negara tersebut,” ujar Trump sebagaimana dikutip oleh The Guardian dan AFP.

Ia juga menegaskan bahwa AS akan ”mengelola” Venezuela sementara waktu hingga transisi kekuasaan selesai. Trump berdalih bahwa langkah ini perlu untuk memulihkan industri yang menurutnya ”dicuri” dari bakat dan teknologi Amerika oleh rezim sosialis.

Pasar komoditas bereaksi cepat terhadap ketidakpastian ini. Meskipun dunia tengah mengalami tren surplus pasokan, risiko geopolitik (risk premium) di Venezuela langsung mengerek harga minyak.

Pada pembukaan pasar pasca-serangan, analis dari UBS, Giovanni Staunovo, dalam keterangannya kepada The National News pada Sabtu (3/1/2026), menyatakan bahwa meskipun terlalu dini untuk menilai dampak jangka panjang, blokade yang sudah dilakukan AS terhadap tanker minyak Venezuela sejak Desember 2025 telah menekan angka ekspor negara tersebut.

Senada dengan itu, Vandana Hari, CEO Vanda Insights di Singapura, pada Minggu (4/1/2026) menjelaskan kepada media internasional bahwa reaksi pasar saat ini masih berupa kenaikan risk premium. ”Tidak banyak yang terjadi selain kenaikan premi risiko Venezuela. Namun, jika terjadi perang saudara atau ketidakstabilan berkepanjangan, pasokan jenis minyak mentah berat (heavy crude) akan terganggu,” ujarnya.

Minyak mentah jenis Brent dilaporkan diperdagangkan di kisaran 62 dollar AS hingga 65 dollar AS per barel, naik dari posisi sebelumnya di bawah 60 dollar AS akibat sentimen konflik ini.

Kecaman Internasional dan Kekhawatiran Inflasi

Langkah unilateral Washington memicu protes keras dari sekutu tradisional Caracas. Menteri Luar Negeri Venezuela, Yván Gil, dalam pernyataan resminya pada Sabtu (3/1/2026) sore, menyebut serangan ini sebagai ”agresi ilegal” yang melanggar Piagam PBB.

”Tujuan utama serangan Amerika Serikat adalah merebut sumber daya strategis kami,” tegas Gil dalam laporan yang dilansir Aktual.com.

Baca Juga: Produk Impor Dominasi Pasar Minyak Herbal

Dampak konflik ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga BBM di tingkat retail, terutama solar (diesel). Analis dari Atlantic Council, dalam kajiannya pada Sabtu (3/1/2026) malam, memperingatkan bahwa jika pasokan minyak berat Venezuela hilang dari pasar global, harga diesel bisa melonjak hingga 5 persen di AS, yang berpotensi memicu gelombang inflasi baru bagi ekonomi dunia, termasuk tekanan fiskal bagi negara-negara importir seperti Indonesia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: