Angkat Urban Legend Jalur Angker, Film 'Alas Roban' Hadirkan Teror Mitos yang Terasa Nyata
Kredit Foto: Istimewa
Kawasan Alas Roban di Batang, Jawa Tengah, telah lama dikenal masyarakat lebih dari sekadar jalur transportasi. Kawasan ini menyimpan beragam cerita yang berkembang melalui pengalaman para sopir lintas kota hingga penuturan antar generasi. Kondisi hutan yang lebat, kemunculan kabut secara tiba-tiba, serta suasana mencekam yang sulit dijelaskan secara logika membuat jalur ini memiliki reputasi tersendiri di mata para pelintas.
Fenomena mitos lokal atau urban legend di wilayah ini tidak selalu bersumber dari penampakan visual yang sama, melainkan dari kesamaan perasaan gelisah yang dirasakan banyak orang saat melaluinya. Bagi para pelintas, melewati Alas Roban bukan hanya perkara teknis berkendara di jalan yang gelap dan berkelok, tetapi juga mengenai kepatuhan terhadap sejumlah aturan tidak tertulis yang dipercayai oleh masyarakat setempat.
Sutradara Hadrah Daeng Ratu menilai bahwa Alas Roban memiliki latar belakang cerita yang kuat karena perpaduan antara sejarah panjang dan misteri yang tetap eksis hingga saat ini.
“Alas Roban menyimpan banyak sejarah dan misteri. Jalur ini dikenal sebagai salah satu lintasan paling angker di Jawa,” kata Hadrah.
Baca Juga: Forum CSR DKI Jakarta dan Joyday Ajak Anak Binaan Dinsos DKI Jakarta Nonton Bareng Film 'Zootopia'
Ia menambahkan, mitos yang beredar kerap menyebut banyak pengendara mengalami kejadian ganjil, baik saat melintas maupun setelah melewati kawasan tersebut. “Banyak yang menemukan hal-hal gaib dan mistis saat melewati, bahkan setelahnya,” ujarnya.
Menjelang penayangannya pada 15 Januari 2026, film “Alas Roban” merangkum larangan-larangan mistis yang selama ini kerap dibicarakan: menghindari melintas tepat tengah malam, tidak singgah ke warung pinggir jalan, mewaspadai spion kendaraan, tidak menanggapi suara yang memanggil nama dari sisi jalan, serta tidak menatap bayangan diam yang tampak di pepohonan.
Atmosfer itulah yang menjadi pijakan utama film ini. “Alas Roban” memotret cara mitos bekerja tidak selalu hadir sebagai sosok, tetapi sebagai keyakinan, ketakutan yang menular, dan serangkaian larangan yang mengubah perjalanan malam menjadi ujian mental.
Baca Juga: Dorong Industri Film, DKI Susun Kebijakan Menuju Kota Sinema
Taskya Namya, yang memerankan Tika, menyoroti salah satu momen yang menjadi pemantik ketegangan dalam cerita.
“Momen ketika Tika menemukan gambar Gendis yang tidak wajar, kecurigaan muncul makin kuat karena ada yang aneh. Terlebih saat Gendis mengajak main petak umpet, di situ ekspresinya tidak seperti Gendis yang ia kenal,” ujar Taskya, menggambarkan perubahan yang terasa janggal dan mengusik.
Film “Alas Roban” digarap melalui kolaborasi Unlimited Production, Narasi Semesta, dan Legacy Pictures, serta disutradarai Hadrah Daeng Ratu. Deretan pemainnya antara lain Michelle Ziudith sebagai Sita, Rio Dewanto sebagai Anto, Taskya Namya sebagai Tika, Imelda Therinne sebagai Dewi Raras, serta Fara Shakila sebagai Gendis.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement