Kredit Foto: Ist
Berangkat dari dedaunan dan ranting di lingkungan sekitar, Irfan Kristiyanto membuktikan bahan berbasis alam dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang menembus pasar global. Melalui merek Jarihitam Ecoprint, produk kain hingga fesyen bercorak alam hasil karyanya telah dipasarkan ke sejumlah negara Eropa hingga Rusia.
Jarihitam Ecoprint berdiri pada 2018, berawal dari ketertarikan Irfan terhadap teknik ecoprint yang saat itu masih minim dikenal di Indonesia. Informasi yang terbatas mendorongnya melakukan eksperimen mandiri dengan modal awal sekitar Rp25 juta yang dikumpulkan secara bertahap.
Selama dua bulan penuh, Irfan bereksperimen dengan berbagai teknik, media kain, dan jenis daun. Dari proses uji coba berulang, ia menemukan formula yang memungkinkan bahan di sekitar rumahnya diolah menjadi produk bernilai jual tinggi.
“Saya berpikir ini sangat menarik sekali, karena bahan bakunya dari lingkungan, semuanya ada di sekitar kita. Dan isunya sangat seksi, sampai kapan pun ecoprint tidak akan pernah mati,” ujar Irfan.
Baca Juga: IFG Life Soroti Literasi 66% dan Inklusi 80%, Tantangan Masih Besar?
Sejak awal, Irfan memandang ecoprint bukan sekadar produk, melainkan ekosistem bisnis. Tiga bulan setelah memulai usaha, ia membuka kelas ecoprint bagi masyarakat sekitar untuk memastikan keberlanjutan bahan baku dan lingkungan.
“Ketika saya mengajar dan mengajak orang banyak untuk belajar ecoprint, harapannya banyak orang yang akan menanam. Kita harus menjaga kesinambungan, jangan hanya mengambil lalu habis dan pindah,” katanya.
Komersialisasi Jarihitam dimulai melalui pameran offline sejak 2018. Irfan sengaja tidak langsung masuk pasar daring karena menurutnya ecoprint perlu disentuh dan dirasakan. Langkah ke pasar global dimulai ketika Disperindag Jawa Barat mengajak Jarihitam dalam misi dagang.
Belgia menjadi negara pertama tujuan ekspor pada 2018, disusul Perancis dan Jerman pada 2019, Selandia Baru pada 2020, serta Rusia pada 2024–2025. Kerja sama dengan pembeli Rusia masih berlanjut hingga kini.
Seiring meningkatnya permintaan, Irfan melibatkan komunitas sekitar dalam rantai produksi, mulai dari penjahit hingga penyedia bahan. Ia juga bekerja sama dengan Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya dan Jasa Raharja dalam program pelatihan ecoprint bagi ahli waris korban kecelakaan lalu lintas.
Kepala Bagian Administrasi Jasa Raharja Kanwil Utama Jawa Barat, Yudi Wiryawan, mengatakan Jarihitam merupakan salah satu UMKM binaan yang berkembang signifikan.
“Tujuan kami adalah pemberdayaan ekonomi. Melalui pelatihan wirausaha ini, kami ingin para ahli waris memiliki sumber penghasilan baru,” ujarnya.
Baca Juga: Kredit UMKM Kontraksi, Bos OJK Beberkan Strategi di 2026
Salah satu peserta pelatihan, Heni Nurelah, menyebut proses ecoprint membutuhkan ketelatenan tinggi. Dari kain polos hingga menjadi kain bermotif alam, seluruh proses dapat memakan waktu sekitar satu minggu.
Sementara itu, pola bisnis berbasis ekosistem juga dijalankan Asta Nusa Warna yang bergerak di sektor minyak atsiri. Usaha yang telah berjalan lebih dari 20 tahun ini memasok bahan baku ekspor sekaligus mengembangkan produk hilir melalui merek KALDO.
Founder Asta Nusa Warna, Jejen Ahmar Jaenun, mengatakan pengembangan produk bernilai tambah menjadi fokus utama perusahaan. Produk KALDO kini dipasarkan di sejumlah hotel di Bandung dengan dukungan Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya.
Founder koperasi tersebut, Agus Riki, menyatakan seluruh UMKM binaan dibekali standarisasi agar produknya layak masuk jaringan hotel. Pendampingan dilakukan dari produksi hingga penyesuaian dengan kebutuhan pasar.
Sekretaris Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG), Denny S Adji, menilai UMKM seperti Jarihitam dan Asta Nusa Warna memiliki peran penting dalam menggerakkan rantai ekonomi dari hulu ke hilir.
“Usaha seperti ini mungkin tidak selalu besar, tetapi memiliki kontribusi nyata karena melibatkan banyak pihak dalam satu ekosistem,” ujarnya.
Menurut Denny, keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari omzet, melainkan dari dampak berantai yang mampu menghidupkan ekonomi di sekitarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Advertisement