Kredit Foto: Pertamina
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Airlangga, Profesor Imron Mawardi, mengapresiasi kontribusi PT Pertamina (Persero) dalam pencapaian target lifting minyak nasional 2025 sebesar 605.000 barel per hari (bph) sebagaimana ditetapkan dalam APBN. Menurutnya, peran Pertamina signifikan dalam menopang produksi nasional sepanjang 2025.
“Ya, tentu baik. Kontribusi Pertamina sangat membantu mencapai target di dalam APBN itu,” kata Imron, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Imron merujuk data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang menunjukkan dominasi Pertamina dalam produksi minyak nasional. Ia menilai, sebagian besar kontribusi lifting berasal dari entitas yang berada di bawah naungan Pertamina.
Baca Juga: Lifting Minyak Bumi Lampaui Target, Ini Langkah Pemerintah Tingkatkan Produksi Migas
Bahkan, dari enam perusahaan yang menjadi kontributor terbesar lifting minyak nasional, seluruhnya merupakan anak usaha Pertamina. Perusahaan tersebut antara lain PT Pertamina EP Cepu yang bersama ExxonMobil Cepu Limited mengelola Blok Cepu sebagai penghasil minyak terbesar di Indonesia. Kontributor lain meliputi PT Pertamina Hulu Rokan, PT Pertamina EP, PT Pertamina Hulu Energi ONWJ, PT Pertamina Hulu Mahakam, serta PT Pertamina Hulu Energi OSES.
“Jadi besarnya penguasaan produksi minyak dalam negeri saat ini memang sudah oke. Saya berharap ke depan Pertamina perlu meningkatkan kontribusinya lagi di sisi hulu. Kita sekarang berharap benar-benar dari Pertamina,” ujar Imron.
Ia menekankan, peningkatan lifting minyak nasional menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan energi. Dengan produksi domestik yang lebih tinggi, Indonesia berpeluang menekan ketergantungan terhadap impor minyak mentah yang saat ini masih berada di kisaran satu juta barel per hari.
“Kita tetap berharap kalau Pertamina masih bisa meningkatkan produktivitas sumur-sumurnya serta mengembangkan eksplorasi sumur-sumur baru. Dengan demikian, diharapkan importasi minyak kita terus menurun,” lanjutnya.
Baca Juga: Lifting Minyak 2025 Tembus Target, Pertama Kali dalam Sembilan Tahun
Selain berdampak pada ketahanan energi, Imron menilai dominasi Pertamina dalam produksi minyak nasional juga memberikan efek positif terhadap perekonomian secara luas. Kontribusi tersebut tidak hanya tercermin dari setoran pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), maupun dividen, tetapi juga dari dampak berganda yang ditimbulkan industri hulu migas.
“Ya, karena dalam ekonomi, industri migas termasuk sektor yang linkage-nya, multiplier-nya besar. Terutama sekali dari sisi forward linkage-nya itu panjang,” kata Imron.
Ia menjelaskan, banyak sektor lain yang bergantung pada industri migas, mulai dari industri pengolahan hingga jasa penunjang. Oleh karena itu, kinerja sektor migas yang kuat berpotensi mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor lainnya.
Sebelumnya, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa target lifting minyak nasional dalam APBN 2025 sebesar 605.000 bph telah resmi tercapai. Pencapaian tersebut diraih di tengah tantangan industri hulu migas sepanjang 2025.
“Bagaimana kita bisa mencapai target APBN 605. Nah alhamdulillah, alhamdulillah 1–2 hari terakhir dengan berbagai upaya gejolak yang sangat luar biasa kita mencapai 605, alhamdulillah,” ujar Djoko menjelang akhir 2025.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement