Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jalur Selat Hormuz Terganggu, Pertamina Andalkan Afrika dan AS Sambil Dorong Produksi Blok Cepu

Jalur Selat Hormuz Terganggu, Pertamina Andalkan Afrika dan AS Sambil Dorong Produksi Blok Cepu Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Armada kapal Pertamina International Shipping mencakup 345 unit yang tersebar untuk mendukung distribusi energi nasional, 266 kapal melayani BBM dan avtur, 27 mengangkut minyak mentah, 45 mendistribusikan LPG, dan 7 unit menangani petrokimia sekaligus berperan sebagai floating storage.

Namun, dua kapal masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum bisa bergerak.

Dua kapal yang tertahan adalah VLCC Pertamina Pride dengan ship management dari NYK, yang berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi, dan Gamsunoro yang dikelola Synergy Ship Management, yang sedang dalam proses loading di Khor al Zubair, Irak per laporan 2 Maret.

Keduanya belum dapat melintasi Selat Hormuz akibat ketegangan yang masih berlangsung di kawasan tersebut.

Dua kapal PIS lainnya, PIS Paragon dan PIS Rinjani, sudah berada di luar kawasan konflik. Namun perhatian Pertamina tidak sepenuhnya beralih ke sisi logistik semata.

"Yang menjadi perhatian kami yang utama adalah keselamatan para kru dan keselamatan kargo kami. Tentunya kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dari Kementerian Luar Negeri, dari semua pihak dan kita juga mendorong supaya situasi di sana semakin baik," tutur Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri di Jakarta, Kamis.

Selat Hormuz menanggung sekitar 20-25 persen impor minyak mentah Indonesia, menjadikannya jalur yang tidak bisa diabaikan begitu saja dalam perhitungan ketahanan energi nasional. Gangguan di jalur itu mendorong Pertamina mengaktifkan strategi diversifikasi sumber impor yang sudah disiapkan sebelumnya.

"Untuk antisipasi kami juga melakukan diversifikasi sumber. Sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah, ada juga dari Afrika, ada dari Amerika Serikat, dan berbagai tempat lainnya," ujar Simon.

Langkah itu ditempuh untuk memastikan stok energi nasional tidak terganggu meski jalur utama dari Teluk Persia sedang tidak kondusif.

"Jadi tentunya kita sudah antisipasi untuk mencari sumber yang lain supaya ketahanan stoknya juga bisa baik dan bagus," katanya.

Diversifikasi ini bukan respons mendadak, melainkan bagian dari strategi pengamanan pasokan yang mulai dijalankan sejak ketegangan di Timur Tengah meningkat.

Baca Juga: Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz

Di luar strategi impor, Pertamina juga mendorong peningkatan produksi dari sumber domestik. Blok Cepu menjadi salah satu andalan yang ingin dimaksimalkan kapasitas produksinya.

"Kita kan punya kerja sama di Blok Cepu ya, jadi sama-sama harus maksimal. Dengan penambahan fasilitas di sana kita dorong supaya produksinya bisa meningkat," ucap Simon.

Kombinasi antara diversifikasi impor dan peningkatan produksi domestik menjadi dua kaki strategi Pertamina dalam menghadapi tekanan geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat