Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan ditutup pada level 9.032,584 pada perdagangan Rabu (14/1/2026). Capaian ini sekaligus menandai pertama kalinya IHSG menembus level psikologis 9.000, setelah menguat 0,94% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan penguatan IHSG mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian nasional pada 2026. Dukungan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dinilai berperan penting dalam membentuk sentimen positif yang berkelanjutan di pasar modal.
BEI menilai sinergi yang kuat antara BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta self-regulatory organization (SRO) lainnya PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia turut memperkuat ekosistem pasar modal nasional. Kolaborasi tersebut dinilai meningkatkan keandalan infrastruktur pasar dan kepercayaan pelaku pasar.
Baca Juga: Regulasi Saham dan Free Float Dorong BEI Masuk Top 10 Dunia
Sepanjang 2025, pasar modal Indonesia mencatatkan berbagai rekor tertinggi. Jumlah investor mencapai 20,3 juta, sementara pencatatan saham baru tercatat sebanyak 26 perusahaan dengan total dana yang dihimpun melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sebesar Rp18,1 triliun. Dari jumlah tersebut, enam emiten masuk dalam kategori Lighthouse IPO.
Aktivitas perdagangan saham sepanjang 2025 juga menunjukkan tren penguatan yang konsisten. IHSG ditutup menguat 22,10% pada level 8.644,26 pada perdagangan Senin (29/12/2025) dan mencatatkan 24 kali rekor all-time-high (ATH) sepanjang tahun tersebut.
Baca Juga: Pecah Rekor! IHSG Hari Ini Ditutup Meroket 0,94% Tembus Level 9.032
BEI menilai pencapaian ini menegaskan ketahanan pasar modal Indonesia di tengah dinamika global, sekaligus memperkuat daya saing pasar domestik di tingkat internasional. Basis investor yang terus bertambah dan aktivitas perdagangan yang meningkat menjadi faktor pendukung utama penguatan indeks.
Ke depan, BEI bersama OJK, SRO, dan seluruh pemangku kepentingan menyatakan komitmen untuk terus memperkuat infrastruktur pasar modal. Upaya tersebut mencakup peningkatan kualitas sistem perdagangan, penguatan perlindungan investor, serta perluasan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
BEI menilai penguatan literasi dan inklusi keuangan menjadi prasyarat penting untuk menjaga pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan dan inklusif, seiring meningkatnya peran pasar modal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Advertisement