Kredit Foto: Kemenperin
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan optimisme Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bahwa industri pati ubi kayu dapat memperluas pasar.
Salah satu upaya yang dilakukan Kemenperin dalam mendukung perluasan pasar tersebut adalah dengan menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu pada 22 Januari 2026 melalui kolaborasi bersama Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI).
Langkah ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan industri pati ubi kayu dapat dipenuhi secara optimal oleh produk dalam negeri melalui upaya mempertemukan industri produsen dengan industri pengguna dalam forum Business Matching.
Inisiatif tersebut sejalan dengan salah satu key point Strategi Besar Industri Nasional (SBIN) yang berlandaskan pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yakni penguatan backward–forward linkage guna menciptakan rantai nilai industri yang terintegrasi dan efisien.
Sebagai perwujudan pelaksanaan SBIN tersebut, Kemenperin mengakselerasi industrialisasi berbasis sumber daya alam melalui penguatan keterkaitan hulu–hilir pada komoditas strategis pati ubi kayu.
Ini disampaikan Menperin dalam sambutannya pada Pembukaan Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta, Kamis (22/01/2026).
“Saat ini terdapat 125 perusahaan pati ubi kayu dengan tingkat utilisasi 43 persen dan telah menguasai pasar dalam negeri mencapai 79 persen. Kami optimis industri pati ubi kayu dapat ditingkatkan kembali dan mampu melakukan penetrasi pasar lebih luas lagi,” ungkapnya, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Jumat (23/1).
Pati ubi kayu merupakan komoditas strategis dan memiliki nilai tambah yang tinggi. Komoditas ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan seperti pemanis, bumbu, makanan tingan dan mie. Sementara untuk non pangan, pati ubi kayu dapat dimanfaatkan untuk produk kertas, bahan kimia, dan ethanol.
Sektor ini turut mencatatkan prestasi yang baik dengan meningkatnya nilai ekspor pati ubi kayu hingga mencapai US$ 18,7 juta pada bulan November 2025 atau naik hingga 58,34 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya.
Namun meskipun sektor tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penguatan industri nasional, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Tantangan tersebut antara lain persaingan harga dan mutu dengan produk impor.
“Untuk menjawab hal itu, Kemenperin mendorong penguatan sinergi antara produsen pati ubi kayu dan industri pengguna, salah satunya melalui penerapan mekanisme Neraca Komoditas (NK),” tambah Menperin.
Menperin juga menyampaikan harapannya agar industri pati ubi kayu dalam negeri dapat melakukan diversifikasi atas spesifikasi yang diperlukan oleh industri pengguna.
Karenanya, Menperin menyampaikan apresiasi atas upaya pelaku industri penghasil dan pengguna pati ubi kayu dalam meningkatkan kinerja, memperluas akses pasar, serta mengoptimalkan pemanfaatan bakan baku dan produk dalam negeri.
Kegiatan Business Matching Pati Ubi Kayu ini melibatkan 17 industri pati ubi kayu yang berlokasi di Provinsi Lampung, dan 51 calon buyer yang terdiri dari dua asosiasi industri dan 49 industri pengguna ubi kayu di sektor pangan, antara lain pemanis, bumbu, makanan ringan dan mie instan, serta non pangan seperti kertas, bahan kimia, dan ethanol.
Dengan skema pertemuan bisnis one-on-one antara industri produsen dengan pengguna pati ubi kayu yang terbagi dalam tiga sesi.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika turut menyampaikan apresiasinya terhadap industri produsen dan pengguna atas upayanya dalam meningkatkan nilai tambah pati ubi kayu. “Kami harap kemitraan antara industri produsen dan pengguna pati ubi kayu dapat terus terjalin hingga kemandirian industri dalam negeri dapat terus meningkat,” tambahnya.
Gubernur Provinsi Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmennya dalam memacu Lampung menjadi pusat diversifikasi industri tapioka.
“Kami ingin industri tapioka di Lampung tidak hanya pada produk konvensional, namun juga berkembang pada berbagai produk turunan bernilai tambah yang tinggi. Melalui Business Matching ini, kami harap akan melahirkan komitmen yang nyata, kemitraan jangka panjang, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait:
Advertisement