Kredit Foto: PTFI
PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat penurunan produksi tembaga dan emas dari tambang Grasberg, Papua, nyaris mencapai 90% akibat gangguan teknis berupa insiden mud rush di tambang bawah tanah.
Berdasarkan laporan keuangan Freeport-McMoRan (FCX), produksi tembaga PTFI pada kuartal IV 2025 hanya mencapai 49 juta pon. Realisasi tersebut merosot 88,58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 429 juta pon.
Penurunan signifikan juga terjadi pada produksi emas. Pada kuartal IV 2025, produksi emas tercatat sebesar 61.000 ons, turun 85,75% dari 428.000 ons pada kuartal IV 2024.
Baca Juga: Bahlil Konfirmasi Izin Tambang Emas Martabe dan PLTA Batang Toru Dicabut
Manajemen Freeport menjelaskan, penurunan tajam kinerja tersebut disebabkan oleh insiden mud rush atau aliran lumpur eksternal yang terjadi pada 8 September 2025. Kejadian tersebut memaksa perusahaan menghentikan sementara aktivitas penambangan di Grasberg Block Cave (GBC).
“Produksi tembaga sebesar 1,0 miliar pon dan emas 0,9 juta ons sepanjang tahun 2025 mencerminkan dampak penangguhan sementara operasi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave sejak September 2025,” tulis manajemen dalam laporan keuangannya, Jumat (23/1/2026).
Insiden tersebut tidak hanya menekan volume produksi, tetapi juga berdampak pada rantai pasok. Penghentian operasi GBC menyebabkan pasokan konsentrat ke fasilitas pemurnian (smelter) di Jawa Timur ikut terhenti.
Akibat kondisi tersebut, Freeport mencatat lonjakan biaya signifikan. Perusahaan menanggung biaya fasilitas menganggur (idle facility costs) dan biaya pemulihan langsung sebesar US$454 juta atau setara Rp7,65 triliun (asumsi kurs Rp16.842 per dolar AS) hanya dalam satu kuartal.
Secara kumulatif sepanjang 2025, total beban akibat insiden aliran lumpur tersebut membengkak menjadi US$625 juta atau setara Rp10,53 triliun.
Baca Juga: Masyarakat Makin Gemar Koleksi, Perdagangan Emas Digital Sentuh Rp115,6 Triliun
Meski kinerja produksi terpukul, PTFI telah mulai menjalankan langkah pemulihan. Operasi penambangan di Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan yang tidak terdampak insiden telah kembali beroperasi sejak akhir Oktober 2025.
Sementara itu, untuk tambang utama Grasberg Block Cave, perusahaan merencanakan restart secara bertahap mulai kuartal II 2026. Freeport menargetkan kapasitas produksi dapat pulih hingga 85% pada paruh kedua 2026.
“Saat kita memasuki tahun 2026, tim kami memiliki fokus yang jelas untuk memulihkan operasi di Grasberg secara aman dan berkelanjutan,” ujar Presiden dan CEO Freeport-McMoRan, Kathleen Quirk.
Saat ini, proses pembersihan lumpur dan perbaikan infrastruktur tambang masih terus dilakukan untuk memastikan kelangsungan operasional tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement