Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bank Sentral Eropa Ungkap Risiko Terbaru Ekonomi Euro: Ancaman Militer Rusia

Bank Sentral Eropa Ungkap Risiko Terbaru Ekonomi Euro: Ancaman Militer Rusia Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Sentral Eropa (ECB) mengatakan bahwa kebijakan moneter saat ini sudah sesuai dengan kondisi ekonomi, namun bank sentral harus bersiap menghadapi guncangan baru, termasuk potensi ancaman militer dari Rusia.

Anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa, Gediminas Šimkus menyebut pihaknya memang telah mencatat keberhasilan signifikan tahun lalu dengan menjadi satu-satunya bank sentral utama dunia yang berhasil mencapai target inflasi. Namun hal itu mesti tak membuat pihaknya terbuai dalam menghadapi resiko baru terhadap ekonomi dari Eropa.

Baca Juga: BYD Genjot Produksi Global, Pabrik Eropa di Hongaria Segera Beroperasi

Ia memperingatkan bahwa gejolak politik global masih akan berlanjut dan dapat dengan mudah menggoyahkan kondisi ekonomi yang saat ini relatif stabil, yakni inflasi sesuai target, pertumbuhan mendekati potensi, serta suku bunga berada di level netral.

“Amerika Serikat sering kita bahas tetapi kebijakan mereka berdampak pada kita terutama dari sisi perdagangan,” kata Šimkus, dilansir dari Reuters, Rabu (28/1).

“Namun kita juga memiliki tetangga di timur, dan risiko di sana memiliki karakter yang berbeda, yaitu ancaman agresi militer," tambahnya.

Lithuania, Estonia dan Latvia selama ini menyuarakan kekhawatiran terhadap kemungkinan agresi Rusia. Kekhawatiran tersebut mencakup serangan siber, kampanye disinformasi serta pelanggaran wilayah udara oleh drone dan jet tempur.

Šimkus menekankan bahwa bank sentral perlu memastikan distribusi uang tunai dan sistem pembayaran tetap tangguh menghadapi risiko semacam itu, sekaligus menjaga kebijakan moneter agar tetap fleksibel.

“Jika risiko militer meningkat, masyarakat cenderung mencari uang tunai, sehingga sistem distribusinya harus sangat efisien,” ujarnya.

Selain ancaman geopolitik, ia juga menyoroti risiko perubahan iklim, yang menuntut kesiapan sektor perbankan dari Eropa.

“Pelajaran dari masa lalu adalah kita tidak bisa berkomitmen pada satu jalur kebijakan atau janji tertentu,” kata Šimkus.

“Kita harus terbuka dan menerima bahwa lingkungan global bersifat volatil dan guncangan akan terus datang," tambahnya.

Meski volatilitas dapat menekan bank sentral untuk bertindak cepat, ia menilai bahwa ekonomi kawasan euro kini relatif lebih tahan terhadap guncangan, dan para peramal sering kali melebih-lebihkan dampak risiko.

Baca Juga: Kremlin: Penyerahan Donbas Jadi Syarat Utama Damainya Rusia-Ukraina

“Kuncinya adalah tidak bereaksi berlebihan terhadap setiap perubahan data. Kita harus fokus pada tren dan kekuatan utama yang membentuk perekonomian,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: