Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bursa Asia Meroket Ditopang Saham AI

Bursa Asia Meroket Ditopang Saham AI Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mayoritas Bursa Asia menguat pada perdagangan di Rabu (28/1). Investor menyerbu saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) menjelang rilis laporan keuangan perusahaan teknologi, yang mampu menutupi sikap hati-hati investor menjelang keputusan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS).

Dilansir Kamis (29/1), berikut ini adalah catatan pergerakan sejumlah indeks utama dari Bursa Asia. Bursa Jepang menjadi sorotan dalam perdagangan kali ini:

  • Hang Seng (Hong Kong): Naik 2,58% ke 27.826,91
  • CSI 300 (China): Naik 0,26% ke 4.717,99
  • Shanghai Composite (China): Naik 0,27% ke 4.151,24
  • Nikkei 225 (Jepang): Naik 0,05% ke 53.358,71
  • Topix (Jepang): Turun 0,79% ke 3.535,49
  • Kospi (Korea Selatan): Naik 1,69% ke 5.170,81
  • Kosdaq (Korea Selatan): Naik 4,70% ke 1.133,52

Sentimen regional didorong oleh optimisme terhadap kinerja laba korporasi serta berlanjutnya permintaan global terhadap teknologi AI. Saham-saham semikonduktor dan pusat data mencatat kinerja lebih baik, karena investor memposisikan diri untuk potensi laporan keuangan yang solid dan pertumbuhan jangka panjang berbasis akal imitasi.

Pasar mencermati hasil keuangan perusahaan-perusahaan besar untuk melihat kekuatan pendapatan berbasis akal imitasi serta arah belanja modal yang dinilai menjadi penentu kelanjutan reli saham teknologi global.

Meski demikian, perhatian investor tetap tertuju pada keputusan kebijakan moneter dari The Fed. Ia secara luas diperkirakan akan menahan suku bunga, namun pelaku pasar menunggu pernyataan kebijakan serta komentar dari Ketua The Fed Jerome Powell. Setiap perubahan nada kebijakan darinya diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap selera risiko dan pergerakan mata uang di Asia.

Di Jepang, pasar saham melemah terbatas akibat penguatan yen yang diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam sekitar tiga bulan. Penguatan mata uang tersebut dipicu spekulasi kemungkinan intervensi valuta asing bersama dari Amerika Serikat dan Jepang.

Namun, penurunan pasar saham tertahan oleh lonjakan saham-saham terkait akal imitasi yang dipimpin oleh Renesas Electronics Corp dan SoftBank.

Baca Juga: IHSG Kena Trading Halt! Saham Konglo dan Bank Jumbo Berguguran

Yen yang lebih kuat cenderung menekan kinerja eksportir karena meningkatkan harga barang di luar negeri dan mengurangi laba ketika pendapatan dikonversi kembali ke yen, sehingga membebani indeks yang didominasi saham ekspor.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: