Kredit Foto: Sufri Yuliardi
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyiapkan strategi pertumbuhan kredit yang selektif, penguatan likuiditas, dan disiplin manajemen risiko untuk menjaga kinerja di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda sepanjang 2025. Strategi tersebut dijalankan saat kredit perseroan tetap tumbuh 13,4% secara tahunan (YoY) menjadi Rp1.895 triliun, melampaui laju industri perbankan nasional.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengatakan, ketidakpastian global direspons dengan menahan agresivitas berlebihan dan mengarahkan pembiayaan ke sektor produktif dan ekonomi kerakyatan.
“Kami mendorong pembiayaan yang selektif dan terukur di seluruh segmen, dengan fokus pada sektor produktif yang mendorong ekonomi kerakyatan dan perluasan lapangan kerja,” ujar Riduan dalam paparan kinerja di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: Likuiditas Terjaga, DPK Bank Mandiri Tumbuh 23,9% Jadi Rp2.105 Triliun
Ia menilai, stabilitas makro domestik masih memberi ruang bagi perbankan untuk tetap menjalankan fungsi intermediasi. Pertumbuhan ekonomi yang bertahan di kisaran 5%, inflasi sekitar 3%, serta likuiditas pasar yang relatif kondusif menjadi penyangga di tengah volatilitas global. Dalam kondisi tersebut, Bank Mandiri memperketat struktur pendanaan untuk menekan biaya dana.
Dari sisi likuiditas, Bank Mandiri mengandalkan pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) sebagai bantalan utama. Sepanjang 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp2.105,8 triliun, tumbuh 23,9% YoY, dengan CASA sebesar Rp1.431,4 triliun atau naik 12,6% YoY. Struktur pendanaan ini menjaga ruang ekspansi kredit tanpa meningkatkan tekanan likuiditas.
Di sisi risiko, Bank Mandiri mempertahankan kualitas aset di tengah ekspansi. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL Gross) tercatat 0,96% pada akhir 2025, berada di bawah rata-rata industri. Penyangga risiko diperkuat dengan NPL coverage ratio 253%, sementara cost of credit dijaga di level 0,34%.
Baca Juga: Bank Mandiri Kantongi Laba Rp56,3 Triliun di 2025
Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Mohamad Rizaldi menambahkan, strategi pertumbuhan diarahkan ke pembiayaan berbasis ekosistem yang dinilai lebih terukur di tengah ketidakpastian global.
“Pertumbuhan kredit yang kuat didorong oleh pembiayaan ke ekosistem BUMN dan pemerintah yang tumbuh sekitar 40% secara tahunan, dengan risiko terukur dan dampak ekonomi luas,” ujarnya.
Selain menahan risiko kredit, Bank Mandiri juga menekan biaya dan memperluas basis dana melalui akselerasi digital. Hingga akhir 2025, Livin’ by Mandiri digunakan oleh 37,2 juta pengguna, sementara Kopra by Mandiri dimanfaatkan sekitar 320 ribu pengguna, dengan 85% berasal dari segmen UMKM. Aktivitas digital tersebut memperkuat penghimpunan dana murah dan efisiensi transaksi.
Di sisi lain, Bank Mandiri tetap mengalirkan pembiayaan produktif untuk menopang ekonomi domestik. Sepanjang 2025, perseroan menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp41 triliun kepada lebih dari 360 ribu UMKM, dengan pendekatan terukur dan tata kelola ketat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: