Cadangan Devisa Susut Tergerus Depresiasi Rupiah, Kebijakan BI Jadi Sorotan
Kredit Foto: Istimewa
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tercatat menurun menjadi sekitar USD154,6 miliar dari posisi Desember 2025 sebesar USD156,5 miliar. Artinya, terjadi koreksi sekitar USD1,9 miliar dalam satu bulan terakhir.
Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global, serta kebutuhan rutin pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menilai bahwa tanpa intervensi yang lebih agresif dari Bank Indonesia (BI), tekanan terhadap Rupiah berpotensi jauh lebih dalam.
"Tanpa intervensi yang lebih agresif dari BI, pelemahan Rupiah kemungkinan akan jauh lebih dalam di tengah kuatnya tekanan eksternal dan memburuknya sentimen domestik," kata Rully di Jakarta, Senin (9/2).
Baca Juga: Purbaya Klaim Bisa Bikin Rupiah Menguat ke Rp15.000 Jika di Posisi BI
Namun, langkah intervensi di pasar valuta asing tersebut tidak lepas dari konsekuensi lanjutan terhadap kondisi likuiditas domestik. Pengetatan likuiditas dinilai berpotensi memengaruhi pembiayaan di dalam negeri sekaligus memperlambat pertumbuhan kredit.
Kondisi ini menempatkan BI pada posisi yang tidak mudah, karena harus menyeimbangkan antara menjaga stabilitas Rupiah dan tetap mendorong aktivitas ekonomi nasional.
"Intervensi valas dan potensi pengetatan likuiditas membawa konsekuensi terhadap pembiayaan domestik dan pertumbuhan kredit, sehingga BI menghadapi trade-off yang semakin tajam antara menjaga stabilitas Rupiah dan menopang aktivitas ekonomi," ujar Rully.
Baca Juga: Bos BI Blak-blakan Kerja Keras Bank Sentral Jaga Rupiah
Meski demikian, otoritas moneter tetap menegaskan komitmen jangka panjang yang pro growth, dengan menempatkan stabilitas makroekonomi dan nilai tukar sebagai prasyarat penting bagi pemulihan investasi serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri