Tekanan Ekonomi Makin Bikin Sesak, Cukupkah Perencanaan Keuangan Hanya dalam Rupiah?
Kredit Foto: Unsplash/Towfiqu barbhuiya
Perencanaan keuangan keluarga Indonesia kini menghadapi tantangan struktural seiring meningkatnya aspirasi lintas negara, mulai dari pendidikan anak di luar negeri hingga kepemilikan aset global. Pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi domestik membuat perencanaan berbasis rupiah dinilai semakin tidak memadai untuk kebutuhan yang dihitung dalam dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi tersebut mencuat di tengah meningkatnya biaya pendidikan dan properti global, serta depresiasi rupiah yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Data menunjukkan nilai tukar rupiah melemah dari sekitar Rp13.389 per dolar AS pada 2015 menjadi sekitar Rp16.985 per dolar AS pada Januari 2026, atau terdepresiasi sekitar 27%.
Dampaknya langsung terasa pada perencanaan jangka panjang keluarga. Biaya pendidikan sarjana empat tahun di Amerika Serikat, yang diperkirakan mencapai US$200.000–US$350.000, kini setara dengan Rp3,39 miliar untuk batas bawahnya, naik lebih dari Rp700 juta dibandingkan nilai pada 2015. Di Australia, biaya pendidikan dan hidup bagi pelajar internasional berkisar US$125.000–US$245.000, sementara di Malaysia sekitar US$40.000.
Tekanan serupa terlihat di sektor properti global. Di Singapura, harga rata-rata kondominium telah mencapai sekitar US$1,9–2,1 juta. Setelah memperhitungkan pajak tambahan bagi warga negara asing, kebutuhan pendanaan dapat mencapai hingga 60% dari harga pembelian.
Dampak pelemahan kurs tidak hanya memengaruhi rencana besar jangka panjang, tetapi juga menggerus daya beli harian. Sebuah smartphone premium asal Amerika Serikat yang pada 2022 dibanderol US$1.099, kini dipasarkan sekitar US$1.199. Dalam rupiah, harga tersebut meningkat dari sekitar Rp16,2 juta menjadi Rp19,3 juta, atau naik lebih dari Rp3 juta terutama akibat pergerakan nilai tukar.
Tekanan nilai tukar tersebut berlangsung bersamaan dengan inflasi domestik. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia sepanjang 2025 sebesar sekitar 2,92% secara year-on-year, mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa yang turut memengaruhi kemampuan keluarga menjaga nilai perencanaan keuangannya.
Di tengah kondisi tersebut, perencanaan keuangan keluarga dinilai tidak lagi cukup jika hanya mengandalkan nominal rupiah. Kebutuhan yang ditetapkan dalam mata uang asing menuntut kesiapan lintas mata uang agar selisih biaya tidak terus melebar seiring waktu.
Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah, Vivin Arbianti Gautama, menyatakan aspirasi keluarga Indonesia kini semakin bersifat global dan lintas generasi.
“Seiring semakin luasnya aspirasi keluarga Indonesia mulai dari pendidikan anak hingga perencanaan warisan lintas generasi perencanaan dan perlindungan finansial tidak lagi bisa bersifat lokal,” ujar Vivin.
Ia menambahkan, kebutuhan keluarga modern mencakup kesiapan lintas mata uang serta kesinambungan perlindungan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurutnya, struktur aset, tujuan hidup, dan kesiapan dalam rupiah maupun dolar AS perlu menjadi bagian dari perencanaan yang lebih relevan.
Dengan kombinasi tekanan kurs dan inflasi, tantangan keluarga Indonesia tidak lagi sebatas menjaga daya beli hari ini, tetapi memastikan kesiapan finansial untuk kebutuhan global di masa depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: