Kredit Foto: Dok. Kemendikdasmen
Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menghadirkan terobosan baru.
Acara yang resmi dibuka pada 9 Februari 2026 dan berlangsung hingga 11 Februari 2026 ini menghadirkan simulasi langsung kebijakan pendidikan yang dapat diakses dan dicoba oleh para pemangku kepentingan pendidikan.
Baca Juga: Kemen UMKM Salurkan Bantuan untuk 4.876 Pengusaha Terdampak Bencana di Sumbar
Mengusung tema “Memperkuat Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, pameran yang berlangsung selama tiga hari di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen ini menghadirkan 24 stan pameran dan gerai layanan terpadu, serta melibatkan 900 peserta dari seluruh Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pameran ini dirancang bukan sekadar menampilkan capaian, tetapi menjadi ruang pembelajaran kebijakan yang konkret dan partisipatif.
“Sudah banyak hal yang dicapai pemerintah dalam satu tahun terakhir. Yang baik perlu ditunjukkan, tetapi yang lebih penting adalah dapat dicoba langsung oleh para pemangku kepentingan pendidikan,” ujar Wamendikdasmen Fajar, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen, Selasa (10/2).
Dua Simulasi Kebijakan: Dari Konsep ke Pengalaman Nyata
Salah satu pembeda utama pameran tahun ini adalah kehadiran dua simulasi interaktif kebijakan pendidikan.
Pertama, Simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang bisa dilakukan di stan Badan Standar dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). Peserta dapat mencoba langsung simulasi TKA yang akan dilaksanakan pada April 2026 melalui platform Ayo Coba TKA. Fajri Ansari Kistiawan dari BSKAP menjelaskan bahwa simulasi ini bertujuan membangun pemahaman yang utuh terhadap TKA. “TKA bukan penentu kelulusan, melainkan alat ukur kemampuan murid untuk evaluasi diri dan perbaikan pembelajaran,” jelasnya.
Simulasi ini menampilkan beragam tipe soal, termasuk pilihan ganda dan pilihan ganda kompleks, serta memberikan gambaran teknis pelaksanaan asesmen. Salah satu peserta simulasi, Umi Kulsum dari Balai Bahasa Provinsi Riau, mengapresiasi pendekatan ini karena memberikan pemahaman yang nyata mengenai tujuan dan fungsi TKA.
Kedua, Simulasi Digitalisasi Pembelajaran di Kelas yang dihadirkan oleh Direktorat SMP melalui rekonstruksi ruang kelas lengkap dengan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP). Dalam simulasi berdurasi 45 menit, pengunjung diajak menyaksikan langsung praktik pembelajaran yang memanfaatkan platform Rumah Belajar, laboratorium maya, serta evaluasi berbasis gim interaktif.
Guru SMP Negeri 5 Cilegon, Nia Hanifah, menegaskan bahwa teknologi berfungsi sebagai penguat peran guru. “IFP bukan faktor utama. Guru tetap kunci pembelajaran. Namun dengan kreativitas guru dan dukungan platform pemerintah, pembelajaran bisa menjadi jauh lebih bermakna,” ujarnya.
Simulasi ini juga memperkenalkan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial melalui Blockly Games untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah peserta didik.
Layanan Terpadu untuk Menjawab Kebutuhan Daerah
Selain simulasi kebijakan, pameran ini menghadirkan tiga gerai layanan terpadu, yaitu Unit Layanan Terpadu (ULT), Layanan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), serta layanan informasi Sekolah Unggul Garuda.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya