Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Membaca Ulang Makna Pertumbuhan Bisnis di Tengah Ketidakpastian Global 2026

Membaca Ulang Makna Pertumbuhan Bisnis di Tengah Ketidakpastian Global 2026 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Memasuki awal 2026, perekonomian Indonesia berada dalam posisi yang relatif solid secara makro. Stabilitas kebijakan, kesinambungan reformasi struktural, serta arus investasi yang terus mengalir memberi sinyal optimisme.

Fondasi makro yang solid ini menjadi penting karena pada akhirnya pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh kemampuan sektor swasta mengeksekusi peluang di lapangan. Namun, di balik fondasi makro yang terjaga tersebut, dunia usaha justru menghadapi tekanan yang semakin nyata di level operasional, terutama dalam menjaga kelancaran likuiditas.

Ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda, normalisasi suku bunga global, dan fragmentasi perdagangan internasional membuat pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi. Dalam situasi ini, pertumbuhan bisnis tidak lagi bisa dimaknai secara sederhana sebagai kenaikan penjualan, melainkan perlu dibaca bersama kesiapan arus kas dan ketahanan likuiditas.

Stabilitas Makro dan Momentum Investasi

Stabilitas ekonomi nasional, dukungan kebijakan fiskal dan moneter, serta keberlanjutan agenda reformasi struktural menempatkan Indonesia sebagai salah satu destinasi investasi jangka panjang yang tetap menarik di kawasan Asia Tenggara.

Bank Indonesia mencatat kebijakan yang ditempuh sepanjang 2025 mulai berdampak pada penguatan stabilitas sistem keuangan dan kapasitas penyaluran kredit. Pemerintah juga menempatkan dana sebesar Rp276 triliun di sektor perbankan sebagai bantalan likuiditas, dengan tujuan menurunkan suku bunga kredit dan memperluas akses pembiayaan bagi dunia usaha.

Dengan sisi penawaran yang relatif terjaga, fase pertumbuhan berikutnya sangat bergantung pada realisasi investasi dan kualitas eksekusi sektor swasta. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui 5,4% pada 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Indonesia telah tumbuh sekitar 35% dalam tujuh tahun terakhir, meski dihadapkan pada berbagai guncangan global.

Namun, optimisme di level makro tersebut tidak selalu sejalan dengan kondisi yang dihadapi pelaku usaha sehari-hari.

Pertumbuhan Penjualan di Tengah Tekanan Likuiditas

Di tingkat operasional, pertumbuhan bisnis justru sering memunculkan tekanan baru yang tidak langsung tercermin dalam laporan keuangan. Terutama pada sektor business-to-business (B2B), peningkatan penjualan tidak selalu diikuti oleh arus kas yang sehat. Pendapatan dapat tercatat, tetapi kas belum tentu segera tersedia.

Co-Founder & CEO Paper, Yosia Sugialam, menilai banyak pelaku usaha masih memaknai pertumbuhan secara sempit, sebatas kenaikan transaksi dan penjualan. Padahal, dari pengamatan Paper.id di berbagai sektor industri, tekanan likuiditas justru sering meningkat seiring bertambahnya volume transaksi.

“Di B2B, transaksi biasanya tidak langsung dibayar. Revenue sudah tercatat, tapi uangnya belum ada. Secara laporan terlihat sehat, padahal likuiditasnya sedang tertekan,” ujar Yosia.

Situasi ini menempatkan manajemen pada posisi yang dilematis. Tanpa visibilitas arus kas yang memadai, perusahaan berisiko terlalu menahan diri dan kehilangan peluang, atau sebaliknya mengambil keputusan agresif tanpa perhitungan risiko yang matang.

“Kalau arus kas tidak terkelola, dua hal yang mungkin terjadi: bingung mau ambil keputusan atau justru ‘gas saja’ tanpa hitungan. Keduanya sama-sama berisiko,” kata Yosia.

Narasi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan, jika tidak diiringi dengan pengelolaan likuiditas yang disiplin, justru dapat menjadi sumber kerentanan baru bagi bisnis.

Tantangan Likuiditas Berskala Global

Tekanan likuiditas yang dihadapi pelaku usaha di dalam negeri bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Secara global, keterbatasan pembiayaan masih menjadi tantangan struktural. Laporan IFC–World Bank MSME Finance Gap Report mencatat kesenjangan pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (MSME) mencapai US$5,7 triliun di 119 negara berkembang dan emerging market, setara dengan 19% PDB dan 20% dari total kredit sektor swasta.

Sekitar 40% MSME formal tercatat menghadapi keterbatasan akses pembiayaan, baik sebagian maupun sepenuhnya. Tantangan ini semakin relevan di tengah proyeksi masuknya sekitar 1,2 miliar tenaga kerja muda secara global dalam satu dekade ke depan, sementara penciptaan lapangan kerja diperkirakan tidak sebanding.

Di Indonesia, tantangan tersebut muncul di tengah realisasi investasi nasional yang telah melampaui Rp1.400 triliun, dengan target akhir tahun Rp1.900 triliun. Arus investasi yang deras, bagaimanapun, tidak secara otomatis menjamin kelancaran arus kas di tingkat operasional, khususnya bagi UKM dan pelaku usaha di rantai pasok.

“Ketidakpastian adalah hal yang pasti di bisnis, khususnya di situasi ekonomi global yang tidak menentu. Di kondisi seperti ini, ketahanan likuiditas jadi penentu apakah bisnis bisa bertahan atau tidak,” ujar Yosia.

Fleksibilitas Pembayaran sebagai Respons Tekanan Likuiditas

Dalam konteks ketidakpastian dan tekanan likuiditas tersebut, kebutuhan akan fleksibilitas pembayaran semakin mengemuka. Bagi pelaku usaha, ruang waktu dalam memenuhi kewajiban pembayaran menjadi faktor krusial untuk menjaga kesinambungan operasional tanpa harus menghentikan aktivitas bisnis.

Bank Indonesia mencatat transaksi kartu kredit hingga Oktober 2025 mencapai sekitar 45 juta transaksi, tumbuh lebih dari 11% secara tahunan, dengan nilai transaksi sekitar Rp41 triliun. Perkembangan ini mencerminkan pergeseran perilaku pembayaran yang mulai dimanfaatkan tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pengelolaan arus kas.

Yosia menjelaskan, dalam konteks B2B, kartu kredit dapat berfungsi sebagai alat pengatur waktu pembayaran, bukan semata alat belanja. Dengan tambahan tempo pembayaran sekitar 30–45 hari, pelaku usaha memperoleh ruang untuk menjaga likuiditas sambil memastikan aktivitas operasional tetap berjalan.

“Kartu kredit itu bukan spending tool, tapi timing tool,” ujarnya.

Selain fleksibilitas waktu, mekanisme ini membantu pelaku usaha mengelola kebutuhan likuiditas jangka pendek secara lebih terukur. Kemajuan teknologi pembayaran juga memperluas fungsi kartu kredit dalam transaksi B2B, memungkinkan pembayaran supplier dilakukan secara digital dan lebih efisien. 

Pertumbuhan yang Perlu Dibaca Ulang

Prospek investasi Indonesia pada 2026 membuka peluang besar di tengah stabilitas makro dan dukungan kebijakan. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh besarnya angka penjualan atau realisasi investasi, melainkan oleh agility organisasi dalam melakukan digitalisasi, serta kemampuan memanfaatkan teknologi seperti AI, contohnya, untuk memperoleh informasi yang tepat secara cepat melalui prompt yang akurat. 

"Prospek investasi Indonesia pada 2026 membuka peluang besar di tengah stabilitas makro dan dukungan kebijakan. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh besarnya angka penjualan atau realisasi investasi, melainkan oleh kesiapan struktur bisnis dalam mengelola arus kas secara disiplin dan berbasis data."

"Di titik inilah peran teknologi menjadi semakin relevan. Digitalisasi memungkinkan bisnis memperoleh visibilitas arus kas secara real time, sementara pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) membantu manajemen memproyeksikan kebutuhan likuiditas, mengidentifikasi potensi tekanan cash flow lebih dini, dan menyusun skenario keputusan secara lebih terukur. Dengan informasi yang lebih cepat dan akurat, pengambilan keputusan tidak lagi bergantung pada intuisi semata, tetapi pada pemahaman menyeluruh atas kondisi keuangan aktual," tutup Yosia.

Di tengah ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian, pertumbuhan berkelanjutan menuntut pelaku usaha untuk membaca ulang makna pertumbuhan itu sendiri. Pada akhirnya, bisnis yang tahan banting bukan hanya yang mampu menjual lebih banyak, tetapi yang mampu memastikan uang benar-benar tersedia ketika dibutuhkan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: