- Home
- /
- EkBis
- /
- Infrastruktur
Banjir Pasokan 2,5 Miliar Ton, Industri Baja Nasional Desak Kesetaraan Arena Bermain
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta - Industri baja nasional berada di persimpangan jalan.
Di tengah ambisi pertumbuhan ekonomi, sektor yang kerap dijuluki 'Mother of Industries' ini harus berhadapan dengan anomali pasar global, yakni banjir pasokan (oversupply) yang mencapai angka fantastis, 2,5 miliar ton!
Dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-5 The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) yang digelar di Jakarta, Rabu (11/2/2026), pesan yang digaungkan sangat tegas: Indonesia tidak butuh proteksi yang memanjakan, melainkan kesetaraan arena bermain (level playing field) untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Silmy Karim: Melawan Ilusi Proteksionisme
Ketua Dewan Pengawas IISIA Silmy Karim membuka tabir persoalan yang selama ini mengimpit produsen lokal.
Menurutnya, masalah utama bukan terletak pada ketidakmampuan industri dalam negeri untuk berkompetisi secara teknis, melainkan praktik perdagangan yang tidak jujur dari pemain global.
“Hampir 5 tahun saya menjadi Dirut Krakatau Steel, yang terjadi adalah ketidakseimbangan, level playing field, sehingga kita industri baja nasional itu dirugikan,” ujar Silmy dengan nada lugas.
Silmy membedah taktik produsen luar yang merusak harga pasar melalui under-invoicing, sirkumvensi (pengalihan kode HS), hingga pemberian tax rebate oleh negara asal.
Ia menekankan, instrumen seperti Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) dan minimum import price—seperti yang diterapkan India, bukanlah upaya menutup diri, melainkan langkah koreksi pasar.
"Bukan perlindungan yang membuat kita dininabobokan tetapi fairness."
"Saya yakin Bapak Ibu kalau bersaing secara sehat, enggak akan kalah dengan produk dari Cina," tegasnya.
Airlangga Hartarto: Menavigasi Pertumbuhan di Tengah Bayang-bayang Global
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membawa kabar baik sekaligus peringatan.
Secara statistik, sektor logam adalah 'bintang' di tahun 2025, dengan pertumbuhan PDB mencapai 15,71%, jauh melampaui rata-rata manufaktur nasional.
Lonjakan permintaan domestik hingga 19,7 juta ton dipicu oleh geliat sektor konstruksi dan target ambisius pembangunan 3 juta rumah.
Namun, Airlangga mengingatkan ancaman nyata datang dari luar perbatasan.
“Kita harus waspada terhadap global oversupply baja yang diperkirakan akan lebih atau terjadi peningkatan sebesar 2,5 miliar metrik ton di tahun 2025,” papar Airlangga.
Sebagai respons, pemerintah berkomitmen memperketat benteng pertahanan industri melalui penerapan 23 SNI wajib, dan perpanjangan instrumen BMAD untuk produk HRC, alloy, hingga baja lapis.
Tak hanya itu, mulai 2026, industri baja dipaksa bertransformasi menuju green steel untuk menghadapi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang diterapkan pasar internasional.
Kadin: Membersihkan 'Besi Banci' dari Proyek Negara
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin menyoroti sisi gelap pasar baja domestik yang masih dihantui oleh peredaran 'besi banci'—produk baja yang tidak memenuhi standar teknis (under-specification) dan sering kali menghindari pajak.
“Kita tahu besi banci itu ya, yang kalau di pasar kan kita tahu Pak Dirjen, itu biasanya tidak ada pajaknya."
"Sehingga akan sulit untuk para pelaku industri…untuk dapat bersaing,” ungkap Saleh.
Kadin mendesak pemerintah lebih 'galak' dalam menerapkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), terutama pada proyek yang didanai APBN dan APBD.
Baginya, komitmen penggunaan baja lokal adalah harga mati jika ingin industri ini selamat.
“Tanpa keberpihakan daripada pemerintah, ya tentu industri yang menjadi mother industry ini dengan sendirinya akan tergerus,” paparnya. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: