Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Catat Pertumbuhan Impresif, Pemerintah Perkuat Daya Saing Industri Baja

Catat Pertumbuhan Impresif, Pemerintah Perkuat Daya Saing Industri Baja Kredit Foto: Youtube BPMI Setpres
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah menegaskan komitmen untuk memperkuat daya saing industri baja nasional yang mencatatkan kinerja impresif dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Penguatan daya saing tersebut dilakukan melalui hilirisasi, perlindungan pasar domestik, serta percepatan transformasi menuju industri baja rendah karbon Ddi tengah dinamika perdagangan global dan tantangan kelebihan pasokan baja dunia.

Baca Juga: RI-Uni Eropa Tegaskan Komitmen Perdagangan dan Sertifikasi Halal

Ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan sambutan melalui video dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) ke-5 The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) di Jakarta, Rabu (11/02/2026).

“Kita patut bangga, di tahun 2025 sektor industri logam kita mencatatkan prestasi yang impresif. Pertumbuhan PDB sektor ini menembus angka 15,71 persen di atas rata-rata manufaktur dan PDB nasional,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Jumat (13/2).

Kinerja positif tersebut ditopang oleh konsumsi baja domestik yang meningkat dari 18,6 juta ton pada 2024 menjadi 19,3 juta ton pada 2025. Permintaan berasal dari sektor konstruksi yang terus berkembang, termasuk melalui Program Pembangunan 3 Juta Rumah, sektor manufaktur, serta sektor otomotif. Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 16–17 juta ton per tahun dan tingkat utilisasi yang masih di bawah 60–70 persen, industri baja nasional memiliki ruang yang besar untuk meningkatkan produksi dan memperkuat substitusi impor.

Selain itu, hilirisasi yang dijalankan secara konsisten turut mendorong peningkatan nilai ekspor. Komoditas fero-nikel menjadi salah satu unggulan dengan nilai ekspor mencapai USD14,94 miliar pada periode Januari–November 2025. Pasar ekspor juga semakin terdiversifikasi, dengan Australia menjadi tujuan utama untuk produk barang dari besi dan baja senilai USD1,6 miliar, disusul Singapura dan Inggris, sementara RRT tetap menjadi mitra dagang utama dengan nilai ekspor lebih dari USD16 miliar.

“Hilirisasi yang dijalankan secara konsisten telah membuahkan hasil nyata. Kita tidak lagi bergantung pada satu pasar, dan baja Indonesia telah memiliki kualitas dengan standar global,” tegas Menko Airlangga.

Dari sisi investasi, sektor ini juga menunjukkan peningkatan signifikan. Investasi asing meningkat dua kali lipat dari USD8,05 miliar pada 2021 menjadi USD16,37 miliar pada 2025, dengan kontribusi terbesar berasal dari Hongkong, Singapura, dan Tiongkok. Namun demikian, tantangan global tetap perlu diantisipasi, termasuk potensi kelebihan pasokan baja dunia yang diperkirakan mencapai 2,5 miliar metrik ton pada 2025 serta meningkatnya tren proteksionisme.

Memasuki tahun 2026, isu dekarbonisasi dan implementasi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) juga menjadi perhatian utama. Pemerintah mendorong transformasi menuju Green Steel melalui adopsi teknologi rendah karbon seperti Electric Arc Furnace (EAF) yang mampu mereduksi emisi hingga 85 persen, guna memastikan daya saing baja Indonesia di pasar global yang semakin menuntut standar keberlanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Bagikan Artikel: