Walah, Ternyata Ini Penyebab Anjloknya Harga Bitcoin (BTC) Pekan Lalu!
Kredit Foto: Kaspersky
Aksi jual tajam dalam pasar kripto pekan lalu yang menekan harga bitcoin dinilai lebih dipicu oleh faktor makroekonomi global ketimbang isu atau skandal di industri kripto itu sendiri. Tekanan tersebut disebut sebagai dampak rambatan dari pasar keuangan tradisional, salah satunya dari Yen Jepang.
Dikutip dari Coindesk,CEO B2C2, Thomas Restout,mengatakan pelemahan nitcoin berkaitan erat dengan proses unwinding yen carry trade, strategi keuangan yang selama ini banyak digunakan investor global.
Baca Juga: Bukan Digital Gold, Bitcoin (BTC) Justru Makin Mirip Saham Teknologi
Menurut Restout, mekanisme yen carry trade dilakukan dengan meminjam mata uang berbiaya rendah seperti yen, lalu mengalokasikan dana tersebut ke aset berimbal hasil lebih tinggi atau aset berisiko seperti bitcoin, emas dan perak.
“Investor meminjam mata uang dengan suku bunga murah dan menggunakannya untuk melakukan carry trade,” ujar Restout.
Ketika kondisi pasar berubah, strategi yen carry trade dapat berbalik arah dengan cepat dan memicu volatilitas tinggi.
Yen carry trade sendiri mengacu pada praktik meminjam yen dengan bunga rendah, mengonversinya ke mata uang lain, lalu menanamkan dana tersebut ke aset berimbal hasil lebih tinggi.
Namun, ketika nilai yen menguat, investor harus membeli kembali yen untuk melunasi pinjaman sehingga memaksa mereka melepas aset-aset berisiko dan menyebabkan tekanan pasar.
Kenaikan suku bunga yen turut meningkatkan biaya pinjaman, sementara volatilitas pasar yang melonjak mendorong peningkatan persyaratan margin. Restout menyebutkan bahwa dalam pasar logam, margin requirement sempat naik signifikan menjadi 16%. Hal itu memaksa sebagian pelaku pasar menutup posisi karena kebutuhan jaminan yang meningkat.
Dampaknya, tekanan tidak hanya terjadi dalam pasar kripto, tetapi juga meluas ke berbagai aset berisiko lainnya secara global.
Produk exchange-traded fund (ETF) berbasis bitcoin juga mencatat lonjakan volume transaksi selama periode penurunan harga. Namun Restout menepis anggapan terjadinya aksi keluar besar-besaran oleh investor institusi. Ia mencatat bahwa pada puncaknya, aset kelolaan exchange-traded fund bitcoin mencapai sekitar US$150 miliar. Saat ini, ia juga masih berada dalam kisaran US$100 miliar.
“Ini lebih mencerminkan perpindahan kepemilikan, bukan penarikan dana secara menyeluruh,” kata Restout.
Baca Juga: Anjlok Lalu Bangkit Lagi, Harga Bitcoin (BTC) Sudah Masuk Tren Bullish?
Investor Indonesia didorong untuk waspada, dinamika ini menunjukkan bahwa pergerakan kripto semakin erat terhubung dengan kondisi makro global dan pasar keuangan tradisional sehingga risiko volatilitas tetap perlu diantisipasi dalam jangka pendek.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: