Kredit Foto: Istimewa
Indonesia memperkuat akses wisata ke pasar Tiongkok melalui penerbangan charter langsung rute Palu–Guangzhou dan Jakarta–Luwuk yang resmi dibuka pada 11 Februari 2026.
Rute ini menjadi masuk penting untuk memasarkan potensi wisata Sulawesi Tengah ke pasar Tiongkok, salah satu pasar wisatawan mancanegara utama Indonesia.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Strategi Industri dan SDM untuk Pertumbuhan Ekonomi
Ini disampaikan Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati atau Ni Luh Puspa dalam peluncuran rute tersebut di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
“Ini adalah langkah strategis untuk memperluas konektivitas internasional Indonesia, khususnya ke pasar Tiongkok yang memiliki kontribusi signifikan terhadap kunjungan wisatawan mancanegara,” kata Ni Luh, dikutip dari siaran pers Kemenpar, Jumat (13/2).
Ia menjelaskan, rute Palu–Guangzhou dijadwalkan mulai beroperasi pada Mei 2026, sementara rute Jakarta–Luwuk akan beroperasi mulai 1 Juni 2026. Pembukaan kedua rute ini terwujud berkat kolaborasi antara Cocos Tour dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Kehadiran rute tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pintu masuk promosi pariwisata Sulawesi Tengah, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi pengembangan destinasi di kawasan Indonesia Timur.
Menurut Ni Luh, penguatan konektivitas merupakan fondasi penting dalam pengembangan destinasi. Akses transportasi yang semakin mudah akan mendorong pergerakan wisatawan nusantara maupun mancanegara sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah.
“Rute ini memiliki arti penting dalam memperkuat konektivitas domestik dan membuka akses wisatawan nusantara menuju destinasi unggulan di Sulawesi Tengah. Pada saat yang sama, ini juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Seiring dengan terbukanya akses penerbangan, Wamenpar mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata di berbagai destinasi. Peningkatan kapasitas pelaku usaha dan pengelola destinasi dinilai krusial agar konektivitas yang telah dibangun mampu memberikan dampak berkelanjutan.
“Ketika konektivitas sudah terbuka, maka kualitas layanan harus terus ditingkatkan. Jangan sampai akses sudah tersedia, tetapi pengalaman wisatawan belum optimal. Pelayanan yang prima akan menentukan keberlanjutan pertumbuhan kunjungan,” ujarnya.
Ni Luh berharap momentum peluncuran penerbangan charter ini menjadi titik awal penguatan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku industri pariwisata. Kolaborasi yang solid diyakini akan mempercepat transformasi sektor pariwisata menjadi lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: