Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dicecar BEI Soal Akuisisi Tambang Rp1,6 Triliun, Ini Kata Bos MEJA

Dicecar BEI Soal Akuisisi Tambang Rp1,6 Triliun, Ini Kata Bos MEJA Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) menanggapi permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) sehubungan dengan rencana akuisisi 45% saham perusahaan tambang batubara, PT Trimitra Coal Perkasa (TCP).

Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto S, dalam keterbukaan informasi yang dilansir Kamis (19/2), mengungkapkan bahwa porsi 45% tersebut merupakan jumlah maksimum yang telah disepakati dengan pemegang saham pengendali TCP saat penandatanganan perjanjian awal pada 22 Desember 2025. 

Nilai transaksi yang disepakati mencapai Rp1,6 triliun, angka yang jauh melampaui total aset Perseroan per 30 Juni 2025 yang tercatat sebesar Rp107,08 miliar, atau sekitar 15 kali lipatnya.

Meski demikian, nilai transaksi masih berpotensi berubah, bergantung pada hasil penilaian independen oleh Kantor Jasa Penilai Perusahaan (KJPP) yang akan menetapkan valuasi final TCP.

Baca Juga: Ubah Arah Bisnis, MEJA Tebus Tambang TCP Rp2,49 Triliun

Akuisisi akan dilakukan melalui mekanisme share swap atau inbreng saham. Pelaksanaannya dirancang bertahap, menyesuaikan dengan perkembangan produksi TCP. Untuk tahap pertama, MEJA menargetkan realisasi pada kuartal III tahun 2026.

Richie menegaskan, transaksi ini tidak dapat dikategorikan sebagai reverse acquisition atau backdoor listing secara substansi. Ia juga memastikan tidak akan ada perubahan pengendali di tubuh Perseroan.

"Pemegang saham pengendali Perseroan saat ini akan tetap menjadi pemegang saham pengendali Perseroan setelah akuisisi tersebut selesai dilaksanakan. Karena tidak ada perubahan pemegang saham pengendali, maka secara definitive menurut kami transaksi tersebut tidak merupakan reverse acquisition atau backdoor listing secara substansi," ujarnya.

Baca Juga: Nagita Slavina Masuk Bursa, Tengah Negosiasi Akuisisi Emiten VISI

Adapun TCP memiliki aset tambang batubara skala besar di Sumatera Selatan dengan luas konsesi sekitar ±11.640 hektare dan estimasi mineable coal resources mencapai ±693,7 juta ton. Potensi geologi tersebut dinilai mendukung pengembangan tambang terbuka (open pit) dalam jangka panjang.

"Karena itu Perseroan menyakini akuisisi 45% kepemilikan saham TCP tersebut akan memberikan manfaat valuasi yang konkrit terhadap Perseroan dan pemegang saham Perseroan," terang Richie.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Bagikan Artikel: