Operasi Besar Dimulai ke Iran, Apa Tujuan AS-Israel dan Apa Dampaknya ke Dunia?
Kredit Foto: Reuters
Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terkoordinasi berskala besar terhadap Iran. Serangan yang berlangsung di sejumlah kota besar, termasuk ibu kota Teheran, Isfahan, serta fasilitas strategis di Natanz dan Fordow, merupakan eskalasi paling signifikan dalam hubungan kedua negara dengan Iran dalam beberapa dekade terakhir, dan memicu kekhawatiran akan perang terbuka di kawasan.
Operasi yang oleh militer AS diklaim sebagai Operation Epic Fury dan oleh Israel sebagai Operation Lion’s Roar itu melibatkan serangan udara, rudal jelajah, serta penargetan fasilitas militer, sistem pertahanan udara, dan infrastruktur komando penting. Serangan tersebut dilaporkan menghancurkan sejumlah target strategis, termasuk fasilitas yang terkait dengan kepemimpinan tertinggi Iran.
Media pemerintah Iran pada Minggu (1/3) melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas dalam serangan ini. Kabar ini, jika benar, merupakan pukulan besar terhadap tatanan politik di Teheran dan menciptakan ketidakpastian kepemimpinan. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional dan libur selama 40 hari.
Serangan itu tidak hanya menargetkan instalasi militer. Laporan dari Iran menunjukkan bahwa sebuah sekolah dasar putri di Minab, selatan negara itu, terkena serangan udara, menewaskan lebih dari 100 orang, sebagian besar anak perempuan sekolah, serta melukai puluhan lainnya. Kemlu Iran mengecamnya sebagai kejahatan perang.
Laporan resmi awal juga menyebut bahwa ratusan warga di berbagai provinsi menjadi korban dan ribuan lainnya terluka akibat serangan yang tersebar di 24 provinsi di seluruh negara.
Ketegangan yang Telah Terbangun Bertahun-Tahun
Ketegangan antara Iran, AS, dan Israel bukan fenomena baru. Ketiga negara telah bersitegang selama bertahun-tahun, terutama terkait dengan ambisi nuklir dan kemampuan militer Tehran yang dinilai memperluas pengaruhnya di Timur Tengah.
Iran sejak awal 2000-an dicurigai oleh badan intelijen Barat dan Israel tengah mengembangkan kemampuan untuk menghasilkan senjata nuklir sebuah tuduhan yang selalu dibantah Teheran, yang menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai sebagai bagian dari haknya dalam Non-Proliferation Treaty.
Baca Juga: Iran Umumkan Kematian Khamenei Akibat Serangan AS-Israel
Negosiasi baru antara Washington dan Teheran sempat berjalan pada Februari 2026 untuk membahas pembatasan program nuklir dan rudal Iran, namun diskusi itu mandek karena perbedaan yang tajam terutama terkait kemampuan rudal balistik dan mekanisme verifikasi yang diusulkan.
Israel menganggap perjanjian semacam itu tidak cukup karena tidak menghentikan kemampuan rudal dan jaringan militan yang didukung Iran, sementara AS menilai pembatasan nuklir terlalu lemah jika tidak disertai jaminan teknis dan penegakan yang kuat.
Pertimbangan Strategis di Balik Keputusan Militer
Pemerintahan Donald Trump dan pemerintah Benjamin Netanyahu secara resmi mengartikulasikan beberapa alasan utama di balik aksi militer tersebut:
-
Mencegah Kemampuan Nuklir yang Dianggap Mengancam
Trump dan para pejabat AS menyatakan operasi ini bertujuan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Trump menyebut upaya Iran memperluas pengayaan uranium ke tingkat yang sangat tinggi dan kemungkinan melahirkan senjata nuklir sebagai ancaman eksistensial bagi sekutu Washington serta keamanan global. -
Menekan Program Rudal Balistik Iran
Selain nuklir, kemampuan misil Iran yang meliputi rudal jarak jauh dianggap mampu menjangkau wilayah Israel, pangkalan militer AS, bahkan wilayah Eropa. AS bertekad menghancurkan kemampuan rudal ini agar potensi ancaman dikurangi secara signifikan. -
Memutus Jaringan Pengaruh Regional Iran
Iran dikenal mendukung kelompok militan di wilayah seperti Lebanon (Hezbollah), Suriah, Irak, dan Yaman. AS dan Israel menilai jaringan dukungan militer ini memperluas konflik proksi (proxy war) dan merusak stabilitas regional. Serangan dimaksudkan juga untuk melemahkan infrastruktur militer dan logistik Iran yang menopang kelompok-kelompok tersebut. -
Mendorong Perubahan Rezim
Trump dalam sejumlah pernyataan menyuarakan bahwa tujuan jangka panjangnya adalah melemahkan rezim yang dinilai berulang kali mendukung kekerasan serta menekan hak asasi di dalam negeri, seraya menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil kembali negara mereka”.
Respons Iran dan Potensi Eskalasi
Tak berselang lama pascapenyerangan, Iran meluncurkan rudal balistik dan drone ke target-target Israel utara serta pangkalan militer AS di berbagai negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Konflik ini menimbulkan intersepsi udara oleh militer Israel dan memperkuat kekhawatiran keterlibatan negara ketiga dalam pertempuran.
Baca Juga: Trump Klaim Khamenei Tewas, Menlu Iran Beri Penjelasan
Perang balasan seperti ini meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah, karena keterlibatan langsung negara-negara di Teluk dan militer AS membuka spektrum konfrontasi multi-front. Teritorial udara ditutup di beberapa negara, mengganggu penerbangan sipil dan lalu lintas komersial di kawasan.
Reaksi Internasional
Respons global sangat beragam:
- PBB menyerukan cessation of hostilities dan mengutuk serangan serta balasan rudal sebagai ancaman bagi perdamaian dunia.
- Uni Eropa dan sejumlah negara Barat lainnya menyerukan de-eskalasi segera dan kembalinya negosiasi.
- Oman sebagai mediator dalam negosiasi AS–Iran menyatakan keprihatinannya, menilai konflik menentukan stabilitas kawasan di luar kepentingan militer semata.
- Banyak negara di dunia mengekspresikan kekhawatiran atas dampak kemanusiaan dan hukum internasional, sementara beberapa mendesak penghormatan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dampak Politik dan Ekonomi Global
Eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya berhenti pada dimensi keamanan semata. Ketegangan yang terjadi berpotensi menjalar ke berbagai aspek, mulai dari stabilitas geopolitik kawasan hingga keseimbangan ekonomi global yang selama ini sangat sensitif terhadap dinamika Timur Tengah, diantaranya:
-
Risiko Perang Regional yang Meluas
Pertempuran antara tiga aktor besar membuka kemungkinan melibatkan aktor non-negara dan negara lain; konflik semacam ini berpotensi menjadi perang panjang yang melibatkan milisi proksi, pasukan koalisi, dan benturan di wilayah sensitif lain seperti Suriah dan Irak. -
Gejolak Pasar Energi
Iran berada di dekat Selat Hormuz, jalur laut utama ekspor minyak dunia. Ancaman gangguan pengapalan di kawasan ini secara langsung menaikkan volatilitas harga minyak dan memperburuk kekhawatiran pasar global yang telah sensitif terhadap konflik sejak beberapa tahun terakhir. -
Ketidakpastian Politik Domestik Iran
Kematian pemimpin tertinggi dapat menimbulkan ketidakstabilan internal. Proses suksesi di tengah konflik militer dan tekanan internasional menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Iran dalam jangka menengah hingga panjang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: