Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Stok BBM Indonesia Hanya 25 Hari, Pemerintah Kejar Target 90 Hari! DPR Angkat Bicara

Stok BBM Indonesia Hanya 25 Hari, Pemerintah Kejar Target 90 Hari! DPR Angkat Bicara Kredit Foto: Istihanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketimpangan itu terasa mencolok ketika disandingkan dalam satu data: Indonesia hanya mampu menyimpan cadangan BBM selama 25–26 hari, sementara Jepang sudah membangun ketahanan energi hingga 254 hari.

Jarak itulah yang kini mendorong pemerintah bergerak memperluas kapasitas storage energi nasional hingga tiga bulan  dan DPR menyatakan dukungan penuh.

Anggota Komisi XII DPR RI Jamaludin Malik menyebut langkah antisipatif Kementerian ESDM sebagai respons yang tepat di tengah gejolak geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda.

"Kami di Komisi XII DPR RI mendukung langkah pemerintah melalui Kementerian ESDM dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga energi nasional. Upaya antisipatif seperti ini penting agar masyarakat tetap merasa tenang di tengah dinamika geopolitik global yang berkembang," ujar Jamaludin dikutip dari ANTARA, Kamis (5/3/3036).

Jamaludin mengakui kondisi stok BBM nasional yang saat ini berada di kisaran tiga pekan masih dalam batas terjaga.

Namun ia menekankan bahwa angka itu sekaligus menjadi pengingat betapa rentannya sistem energi Indonesia jika gangguan pasokan global berlangsung lebih lama dari yang diantisipasi, terlebih di tengah penutupan Selat Hormuz yang belum ada kepastian kapan berakhir.

Jamaludin mendorong penguatan kapasitas cadangan energi sebagai agenda struktural, bukan sekadar respons darurat.

"Pengembangan infrastruktur penyimpanan energi atau storage menjadi langkah strategis yang dapat memperkuat sistem cadangan energi nasional dalam jangka menengah dan panjang," ujarnya.

Seruan itu datang tepat setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana ambisius: memperluas kapasitas storage BBM nasional dari 25–26 hari menjadi 90 hari atau setara tiga bulan.

"Faktanya, ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25–26 hari, tidak lebih dari itu," ucap Bahlil dalam konferensi pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Angka 90 hari bukan dipilih sembarangan, itu adalah ambang batas yang lazim dijadikan acuan ketahanan energi di tingkat internasional.

Baca Juga: Bukan Pulau Nipa, Bahlil Ungkap Lokasi Pembangunan Storage Energi 

Saat ini feasibility study atau studi kelayakan untuk pembangunan infrastruktur storage tambahan sedang berlangsung, dan keterbatasan kapasitas penyimpanan yang ada menjadi hambatan utama yang harus diselesaikan sebelum target itu bisa dicapai.

Jamaludin juga menyambut baik kebijakan pemerintah yang memastikan harga BBM bersubsidi tetap stabil menjelang Ramadan dan Idul Fitri, sebuah komitmen yang ia nilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah periode meningkatnya kebutuhan energi rumah tangga.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat