Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Ditutup Melemah di Level Rp16.946 Dibayangi Kenaikan Harga Minyak Dunia

Rupiah Ditutup Melemah di Level Rp16.946 Dibayangi Kenaikan Harga Minyak Dunia Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Senin (9/3/2026). Mata uang Garuda turun 24 poin ke level Rp16.949 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.925 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia yang telah menyentuh level US$92 per barel, tertinggi sejak 2020.

Harga tersebut jauh melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang mematok harga minyak di kisaran US$70 per barel. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fiskal pemerintah.

“Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui US$100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4%,” ujar Ibrahim kepada wartawan.

Menurut dia, defisit APBN di atas level tersebut berisiko karena melampaui batas 3% sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Untuk mengantisipasi potensi tekanan tersebut, Ibrahim menilai pemerintah perlu mengambil sejumlah langkah strategis.

Pertama, melakukan efisiensi anggaran negara secara signifikan agar belanja pemerintah difokuskan pada sektor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

“Belanja pemerintah harus difokuskan hanya untuk kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan,” kata dia.

Kedua, pemerintah perlu mendorong pengurangan konsumsi minyak melalui percepatan program konversi energi menuju energi baru dan terbarukan.

Baca Juga: Awal Pekan Berdarah! Rupiah Tembus Rp17.000, IHSG Ambles Lebih dari 4%

Baca Juga: Rupiah Jebol Rp17.001 per Dolar AS, Sentimen Timur Tengah Membara

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.892 Usai Fitch Revisi Outlook Utang RI Jadi Negatif

Program tersebut antara lain pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), tenaga air (PLTA), serta tenaga angin (PLTB) sebagai alternatif pengganti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Ketiga, stimulus ekonomi perlu digencarkan agar aktivitas ekonomi tetap terjaga. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah deregulasi terhadap aturan yang dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pemerintah juga didorong melakukan debirokratisasi dengan menyederhanakan proses perizinan dan administrasi yang selama ini dianggap berbelit sehingga menyulitkan dunia usaha.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: