Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bitcoin Turun ke US$70.000 Usai Keputusan FOMC

Bitcoin Turun ke US$70.000 Usai Keputusan FOMC Kredit Foto: Indodax
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga Bitcoin terkoreksi ke kisaran US$70.000 setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan kebijakan moneter Amerika Serikat masih cenderung ketat, menekan minat investor terhadap aset berisiko termasuk kripto.

Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya Bitcoin sempat menguat mendekati US$76.000 pada Selasa (17/3/2026), didorong arus masuk dana institusional ke spot Bitcoin ETF sebesar US$199,37 juta dalam satu sesi, dengan total US$1,16 miliar dalam tujuh hari.

Namun, pasca pengumuman FOMC, harga Bitcoin terkoreksi sekitar 7%–8% seiring penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga.

The Fed dalam pertemuan terbarunya memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% serta merevisi proyeksi inflasi 2026 menjadi sekitar 2,7%. Kebijakan tersebut memperkuat sinyal bahwa penurunan suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas.

Vice President INDODAX Antony Kusuma mengatakan bahwa pasar merespons sinyal kebijakan moneter yang masih ketat tersebut dengan mengurangi eksposur ke aset berisiko.

“Keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta revisi naik proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish. Pasar pun menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat harapan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas. Namun, ini merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap dinamika ekonomi global yang terus berkembang,” ujar Antony.

Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya juga menegaskan bahwa arah kebijakan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik dan kenaikan harga energi.

Dalam kondisi tersebut, Bitcoin saat ini bergerak di kisaran US$70.000 dengan level US$70.000–US$72.000 menjadi area penopang (support) yang dicermati pelaku pasar.

Selama level tersebut bertahan, pergerakan harga dinilai masih berpotensi stabil dalam jangka pendek, didukung oleh aliran dana institusional yang relatif kuat.

Namun, jika tekanan jual berlanjut dan harga menembus level tersebut, potensi koreksi lanjutan terbuka.

Baca Juga: Inflasi AS Terkendali, INDODAX Sebut Pasar Kripto Menanti Langkah The Fed

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Guncang Bitcoin, Indodax Soroti Pentingnya Manajemen Risiko

Baca Juga: Ekonomi Digital Tumbuh, Indodax Perkuat Program Sosial

Antony menambahkan bahwa dinamika pasar kripto saat ini sangat dipengaruhi faktor makroekonomi, sehingga investor perlu menyesuaikan strategi investasi.

“Pada kondisi pasar saat ini, sentimen pasar cenderung dipengaruhi oleh faktor makroekonomi. Namun bagi investor, fase koreksi dan konsolidasi seperti ini dapat dimanfaatkan untuk menata kembali strategi investasi secara lebih bijak dengan manajemen risiko yang tepat dan fokus jangka panjang,” katanya.

INDODAX menyatakan akan terus memperkuat ekosistem perdagangan kripto melalui peningkatan keamanan, transparansi, serta edukasi kepada pengguna, termasuk mendorong pemahaman terhadap risiko investasi dan pentingnya riset mandiri (do your own research/DYOR).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri