- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Harga Minyak Naik USD1, Beban Subsidi Energi Berpotensi Bertambah Rp6,7 T
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Kenaikan harga minyak mentah global dinilai berdampak langsung terhadap beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Setiap kenaikan harga minyak sebesar USD1 per barel berpotensi menambah beban subsidi hingga Rp6,7 triliun.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyampaikan bahwa sensitivitas APBN terhadap pergerakan harga minyak masih tinggi, seiring dengan konsumsi energi domestik yang besar dan ketergantungan pada energi fosil.
“Setiap kenaikan harga minyak USD1 per barel bisa menambah beban subsidi energi sekitar Rp6,7 triliun. Ini jauh lebih besar dibandingkan tambahan penerimaan negara dari sektor migas,” ujar Fabby dalam keterangannya kepada Warta Ekonomi, dikutip Minggu (22/3/20206).
Ia menjelaskan, pergerakan harga minyak global menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi postur belanja negara, khususnya pada komponen subsidi dan kompensasi energi.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, 20 Negara Siap Jaga Jalur Minyak Dunia dari Konflik Iran-AS
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar, Pemerintah Tahan BBM Lewat APBN
Dalam beberapa skenario, ketika harga minyak berada di kisaran USD80 hingga USD110 per barel, tambahan beban subsidi disebut dapat meningkat signifikan.
Fabby juga menyinggung besarnya konsumsi BBM dan LPG yang masih didominasi impor, sehingga perubahan harga di pasar global cepat tercermin pada kebutuhan anggaran domestik.
“Selama struktur energi kita masih seperti sekarang, APBN akan terus terpapar risiko harga minyak global,” kata Fabby.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: