Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

INDEF: Lonjakan Harga Minyak Picu Risiko Migrasi ke BBM Subsidi

INDEF: Lonjakan Harga Minyak Picu Risiko Migrasi ke BBM Subsidi Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov menilai lonjakan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi di dalam negeri. Kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai dapat memicu peralihan konsumsi masyarakat ke BBM bersubsidi.

Menurut Abra, konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak global berpotensi diikuti penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri. Kondisi tersebut berisiko memperlebar disparitas harga antara BBM subsidi dan non-subsidi.

“Karena kita tahu nanti di bulan April di awal April biasanya pemerintah melalui Pertamina dan badan usaha swasta lain itu akan melakukan penyesuaian harga BBM ya khususnya BBM non-subsidi. Nah pasti itu bisa dipastikan BBM yang non-subsidi akan ada kenaikan harga,” ujar Abra di Jakarta, Selasa (24/3/2026).

Baca Juga: TNI Tekan Konsumsi BBM, Hari Kerja Dipangkas Jadi 4 Hari

Ia mengatakan, disparitas harga yang semakin lebar berpotensi memicu migrasi konsumen dari BBM non-subsidi ke subsidi. Hal tersebut dapat meningkatkan konsumsi energi subsidi di tengah tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak global.

“Nah ketika harganya ini disparitasnya jauh antara BBM non-subsidi dan subsidi pasti akan ada risiko migrasi. Jadi konsumsi BBM subsidi baik itu Pertalite maupun Solar subsidi itu dikhawatirkan akan mengalami lonjakan,” kata Abra.

Selain itu, ia juga mengingatkan adanya potensi panic buying yang dapat memperbesar lonjakan permintaan BBM subsidi di masyarakat, terutama di tengah ketidakpastian pasokan energi global.

“Apalagi ditambah adanya fenomena panic buying yang ini juga memicu permintaan yang sangat tinggi sekali,” ujarnya.

Abra menambahkan, peningkatan konsumsi BBM subsidi berpotensi menambah beban subsidi energi pemerintah, terutama di tengah harga minyak dunia yang masih berada pada level tinggi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Istihanah