Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PBB Sebut Konflik AS-Iran Sudah Kelewat Batas, Guncang Ekonomi Global

PBB Sebut Konflik AS-Iran Sudah Kelewat Batas, Guncang Ekonomi Global Kredit Foto: PBB
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berada di luar kendali serta berpotensi memicu perang yang lebih luas dan guncangan ekonomi global, terutama melalui gangguan pasokan energi dan pangan.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menilai eskalasi konflik telah melampaui ekspektasi awal para pemimpin dunia.

“Dunia sedang menghadapi risiko perang yang lebih luas, meningkatnya penderitaan manusia, serta guncangan ekonomi global yang semakin dalam,” ujarnya. Ia menegaskan, “Situasi ini sudah melampaui batas," ujarnya kepada wartawan usai pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York, Rabu (26/3/2026).

Guterres menyatakan konflik telah memicu dampak sistemik terhadap kawasan Timur Tengah dan merambat ke ekonomi global, terutama akibat gangguan pada jalur distribusi energi strategis di Selat Hormuz.

Sebagai respons, PBB menunjuk diplomat senior Jean Arnault sebagai utusan pribadi Sekjen untuk memimpin upaya mediasi di lapangan.

Utusan tersebut akan bekerja secara langsung di lapangan untuk mendukung seluruh upaya mediasi dan perdamaian, termasuk berkomunikasi dengan semua pihak serta menilai dampak konflik secara menyeluruh.

Guterres juga menyampaikan pesan tegas kepada pihak-pihak yang terlibat. Ia mendesak Amerika Serikat dan Israel untuk segera menghentikan perang, serta meminta Iran menghentikan serangan terhadap negara-negara yang tidak terlibat konflik.

“Sudah saatnya perang ini dihentikan,” tegasnya. Ia juga meminta Iran untuk “menghentikan serangan terhadap negara tetangga yang tidak terlibat dalam konflik.”

PBB menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak, gas, dan pupuk dunia. Gangguan di jalur ini dinilai berpotensi memperparah krisis energi dan rantai pasok global.

Dari sisi kemanusiaan, Guterres menyatakan warga sipil di kawasan terdampak mengalami tekanan serius dan hidup dalam ketidakamanan.

Ia juga menyoroti situasi di Lebanon dengan menegaskan bahwa konflik harus dihentikan, serta meminta semua pihak untuk menghentikan serangan yang berdampak langsung pada masyarakat sipil.

Selain itu, Guterres memperingatkan dampak lanjutan terhadap ekonomi global, dengan pasar keuangan yang mulai bergejolak serta terganggunya operasi kemanusiaan.

Menurutnya, negara berkembang menjadi pihak yang paling terdampak, terutama akibat tekanan inflasi, lonjakan harga energi, serta meningkatnya beban biaya hidup.

Gangguan pasokan pupuk juga disebut berpotensi memicu krisis pangan global.

“Tanpa pupuk hari ini, kita bisa menghadapi kelaparan di masa depan,” ujarnya.

Baca Juga: Luncurkan Invasi ke Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel Langgar Aturan PBB

Baca Juga: Bocor! Perang AS-Iran Ditarget Berakhir 9 April, Trump Bakal ke Israel

Baca Juga: Nasib APBN Indonesia di Tengah Konflik Iran vs AS-Israel

Guterres menegaskan bahwa penyelesaian konflik hanya dapat dicapai melalui jalur diplomasi dan penghormatan terhadap hukum internasional.

“Diplomasi harus menjadi jalan utama. Perang bukanlah jawaban. Kita membutuhkan jalan keluar dari bencana ini,” katanya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa diplomasi, penghormatan hukum internasional, dan perdamaian menjadi satu-satunya solusi untuk mengakhiri konflik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri