Reza Pahlavi Masih Teriak Tumbangkan Rezim, Meski Tak Direstui Trump
Kredit Foto: Istimewa
Mantan Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, secara terbuka menyerukan agar rezim pemerintahan Iran Para Mullah saat ini ditumbangkan secara menyeluruh.
Pernyataan tersebut disampaikan Reza dalam acara Conservative Political Action Conference (CPAC) pada hari Sabtu, di tengah perdebatan yang terus bergulir mengenai arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) terhadap konflik di Timur Tengah.
Kehadiran Pahlavi di CPAC disambut dengan sorakan "Hidup Sang Raja!" dari para peserta. Sikap vokal Pahlavi yang mendukung Presiden AS Donald Trump menempatkannya sejalan dengan kelompok garis keras (hawkish) di pemerintahan AS.
"Rezim ini harus ditumbangkan secara menyeluruh," tegas Pahlavi.
Sikap ini tetap ia pertahankan meskipun sebagian diaspora Iran mulai menyuarakan keraguan atas dampak agresi militer AS dan Israel terhadap masa depan warga sipil di negara tersebut.
Menanggapi itu, beberapa pengamat politik ragu kalau pemerintahan Iran saat ini dengan mudah berganti rezim. Sebaliknya, rezim tersebut diprediksi berpotensi keluar dari konflik dengan sikap yang lebih keras. Di sisi lain, kelompok eksil yang mendukung perang ini juga menuai kritik keras karena dinilai mengabaikan tingginya jumlah korban sipil dari pihak Iran.
Presiden AS Donald Trump sendiri sebelumnya sempat menepis kemungkinan bahwa Pahlavi dapat memegang peran sentral jika rezim Iran runtuh.
Pada awal bulan ini, Trump menyebut tokoh yang diusir saat revolusi 1979 itu sebagai "orang yang sangat baik," namun mengisyaratkan kurangnya popularitas Pahlavi di dalam negeri Iran.
"Menurut saya, mungkin seseorang dari dalam (Iran) akan lebih tepat," ujar Trump.
Al Jazeera melaporkan, konflik dengan Iran turut memicu polarisasi di kubu sayap kanan AS, yang terlihat jelas selama acara CPAC berlangsung. Jajak pendapat Pew Research Center menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang tajam:
- 71 persen pemilih Partai Republik menilai AS telah mengambil keputusan yang tepat untuk menyerang Iran.
- 59 persen pemilih secara keseluruhan (lintas partai) menentang serangan awal tersebut.
Meski mayoritas pendukung Republik setuju, sejumlah tokoh konservatif berpengaruh seperti Tucker Carlson dan Steve Bannon secara terbuka mengkritik keterlibatan militer AS dalam perang ini.
Kekecewaan serupa juga disuarakan oleh kalangan aktivis muda konservatif. Benjamin Williams (25), spesialis pemasaran dari kelompok Young Americans for Liberty, menyatakan kepada The Associated Press bahwa hal ini bertolak belakang dengan janji kampanye Trump.
"Kami tidak ingin melihat ada perang lagi. Kami menginginkan kebijakan America First (Utamakan Amerika) yang sesungguhnya, dan Trump sudah sangat tegas mengenai hal itu. Ini benar-benar terasa seperti sebuah pengkhianatan," pungkas Williams.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: