Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kaya Mineral, Indonesia Punya Modal Jadi Pemain Besar Industri EV Global

Kaya Mineral, Indonesia Punya Modal Jadi Pemain Besar Industri EV Global Kredit Foto: IESR
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global.

Potensi tersebut didukung oleh kekayaan mineral kritis dan strategis dalam jumlah besar, yang menjadi komponen utama dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik, mulai dari baterai hingga kendaraan EV secara utuh.

Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, kekayaan tersebut merupakan keunggulan komparatif RI yang tidak dimiliki negara lain.

"Indonesia memiliki comparative advantage, yaitu cadangan mineral kritis, terutama nikel, tembaga, bauksit, dan timah."

"Modal ini menempatkan Indonesia pada posisi sentral dalam rantai pasok global untuk kendaraan listrik hingga teknologi rendah karbon," ujar Fabby kepada Warta Ekonomi, dikutip pada Senin (30/3/2026).

Keunggulan tersebut tidak terlepas dari kondisi geologis Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia, yakni Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia.

Struktur geologi tersebut membentuk kekayaan mineral yang kini menjadi incaran global.

Berdasarkan laporan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia per Desember 2024 yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki cadangan mineral kritis dan strategis dalam jumlah signifikan.

Sumber daya nikel tercatat mencapai 6,74 miliar ton dengan cadangan sebesar 3,13 miliar ton.

Sementara, sumber daya tembaga mencapai 18,336 miliar ton dengan cadangan sebesar 2,86 miliar ton.

Indonesia juga memiliki sumber daya bauksit sebesar 7,79 miliar ton bijih mentah, 3,93 miliar ton bauksit tercuci, serta 1,32 miliar ton alumina.

Adapun sumber daya bijih timah tercatat sebesar 8,27 miliar meter kubik, dengan cadangan mencapai 6,43 miliar meter kubik.

Menurut Fabby, kekayaan mineral tersebut menjadi fondasi kuat bagi Indonesia untuk mempercepat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. 

Momentum ini membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya berhenti pada produk antara seperti nickel pig iron atau prekursor, tetapi juga masuk ke produksi sel baterai hingga manufaktur kendaraan listrik secara terintegrasi.

"Penguatan industri EV merupakan momentum emas bagi Indonesia untuk melompat ke rantai nilai global (global value chain) yang lebih tinggi," tambahnya.

IESR juga memandang, pengembangan hingga adopsi kendaraan listrik juga dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional, di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Fabby menyebutkan, transisi satu juta kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik dapat mengurangi kebutuhan minyak mentah secara signifikan.

Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Membebani APBN, Pengamat Dorong Percepatan Kendaraan Listrik

Dalam hitungannya, kebutuhan minyak mentah RI bisa berkurang hingga 13,2 juta barel per tahun.

"Elektrifikasi transportasi menjadi strategi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi sekaligus menekan beban subsidi energi," tuturnya. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus