Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Sebut Kuba Akan Runtuh, Tak Perlu Intervensi Amerika Serikat

Trump Sebut Kuba Akan Runtuh, Tak Perlu Intervensi Amerika Serikat Kredit Foto: Slate
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat yakin bahwa pihaknya akan segera melihat keruntuhan dari Kuba. Hal tersebut menyusul krisis energi yang terjadi dalam negara tersebut akibat blokade minyak yang dilakukan oleh Washington.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memprediksi bahwa pemerintahan dari negara tetangganya itu akan runtuh dengan sendirinya menyusul krisis energi yang terjadi di Havana. Ia menegaskan bahwa pasokan minyak baru sekalipun tidak akan mengubah nasib rezim tersebut.

Baca Juga: Beri Izin Tanker Rusia, Amerika Serikat Longgarkan Blokade Minyak Kuba

Trump juga tetap mempertahankan sikap keras terhadap pemerintah dari Kuba. Ia kembali menyebut pemerintahan negara tersebut sebagai korup dan gagal.

Sebelumnya, Trump memicu kekhawatiran global setelah menyatakan bahwa dirinya tengah melirik Kuba. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia membahas keberhasilan operasi militer dari Washington.

Trump tidak menjelaskan secara rinci langkah apa yang akan diambil terhadap Kuba. Namun, ia mengindikasikan bahwa penggunaan kekuatan militer tetap menjadi opsi, meskipun sebelumnya ia menyebut ingin menghindari hal tersebut.

Dalam pernyataannya, ia juga sempat meminta media untuk mengabaikan ucapannya, sebelum kembali mengulang bahwa target berikutnya adalah Kuba. Sebelumnya, Trump juga sempat menyebut kemungkinan “friendly takeover” terhadap Havana.

Ia juga diketahui menerapkan blokade de facto terhadap pasokan minyak ke Kuba. Ia menekan negara lain agar tidak memasok energi atau menghadapi tarif tinggi dari Amerika Serikat. Akibatnya, Kuba mengalami krisis energi serius selama berbulan-bulan, ditandai dengan pemadaman listrik luas dan pembatasan bahan bakar.

Namun, Trump baru-baru ini mengizinkan sebuah kapal tanker datang mendekati pelabuhan dari Havana. Tanker tersebut diketahui membawa sekitar 650.000–730.000 barel minyak dan diperkirakan dapat menjadi penyelamat sementara bagi kebutuhan energi dari negara tersebut. Adapun kapal tanker itu rupanya berasal dari Rusia.

Trump menegaskan bahwa keputusannya didasari pertimbangan kemanusiaan, dengan alasan rakyat Kuba membutuhkan energi untuk kebutuhan dasar seperti listrik dan pendingin udara.

Di sisi lain, keputusan ini juga dinilai sebagai langkah untuk menghindari eskalasi dengan Rusia. Hal itu mengingat tanker tersebut merupakan bagian dari armada yang dilindungi dan sebelumnya terkena sanksi dari Barat.

Baca Juga: Diakui Trump, Internal Gedung Putih Ribut Soal Perang Amerika Serikat dan Iran

Upaya untuk menghentikan kapal secara paksa berpotensi memicu konflik langsung di tengah situasi geopolitik global yang sudah tegang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar