Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Analis Sebut Perang Iran Bisa Picu Krisis Global, Harga Minyak Berpotensi Tembus Rp4,2 Juta per Barel

Analis Sebut Perang Iran Bisa Picu Krisis Global, Harga Minyak Berpotensi Tembus Rp4,2 Juta per Barel Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini dinilai berpotensi berkembang menjadi krisis global. Risiko terbesarnya bukan hanya perang berkepanjangan, tetapi juga lonjakan harga energi yang bisa mengguncang ekonomi dunia.

Analis dari International Crisis Group, Ali Vaez, memperingatkan bahwa pendekatan militer tidak akan menghasilkan solusi jangka panjang. Menurutnya, kegagalan diplomasi dan meningkatnya ketidakpercayaan telah mendorong situasi ke arah konflik tanpa jalan keluar yang jelas.

Ia menilai strategi Presiden AS Donald Trump menjadi salah satu pemicu runtuhnya jalur negosiasi. Pendekatan tekanan tanpa kompromi dinilai membuat kesepakatan dengan Iran hampir mustahil tercapai.

“Presiden Trump selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memimpin negosiasi, namun mereka tidak memiliki minat untuk mencapai kesepakatan yang serius. Mereka meyakinkan bahwa Iran akan menyerah di bawah tekanan, sehingga tidak perlu ada proses tawar-menawar,” ujar Vaez dikutip dari Anadolu.

Ia menambahkan bahwa asumsi Iran akan menerima kesepakatan sepihak adalah tidak realistis. Bahkan, keputusan AS keluar dari perjanjian nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) disebut telah merusak kepercayaan dan memperumit upaya diplomasi berikutnya.

“Opsi militer itu bukan solusi” tegas Vaez.

Menurutnya, kini Washington menghadapi dua pilihan sulit: meredakan konflik atau justru memperluas eskalasi. Kedua opsi tersebut sama-sama mengandung risiko besar.

Jika konflik diperluas, salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Dampaknya bisa sangat besar terhadap pasar global.

“Jika itu terjadi, Iran akan membakar infrastruktur energi di seluruh kawasan. Harga minyak bisa melonjak di atas 250 dolar AS per barel atau sekitar Rp4,2 juta, dan kita akan menghadapi kehancuran ekonomi global,” ujar Vaez.

Jika dikonversi, angka tersebut setara dengan lebih dari Rp4 juta per barel. Lonjakan ini berpotensi memicu krisis energi dan inflasi global secara bersamaan.

Vaez juga menegaskan bahwa serangan militer tidak akan mampu menghapus kemampuan nuklir Iran. Pengetahuan teknologi, menurutnya, tidak bisa dihancurkan hanya dengan serangan fisik.

“Iran telah menguasai teknologi pengayaan nuklir. Itu adalah ilmu pengetahuan yang tidak bisa dihapus dari pikiran para ilmuwan Iran,” katanya.

Selain itu, konflik ini juga dinilai berisiko melemahkan rezim non-proliferasi nuklir global. Serangan terhadap negara yang tidak memiliki senjata nuklir justru dapat mendorong negara lain untuk mengembangkan senjata serupa sebagai bentuk perlindungan.

“Iran diserang karena tidak memiliki senjata nuklir. Jadi, mengapa Korea Utara harus mau bernegosiasi soal nuklir?” ujar Vaez.

Ia menambahkan bahwa konflik ini bisa mendorong lebih banyak negara mempertimbangkan senjata pemusnah massal. Dalam jangka panjang, hal tersebut berpotensi mempercepat perlombaan senjata global.

Baca Juga: AS-Israel Disebut Rapat Rahasia Bahas Iran, Konflik Bisa Makin Panas dan Ekonomi Dunia Makin Tak Pasti

Di sisi lain, negara-negara Teluk berada dalam posisi sulit. Mereka bergantung pada perlindungan militer AS, tetapi secara geografis tidak bisa menghindari kedekatan dengan Iran.

Menurut Vaez, tidak ada pihak yang benar-benar menang dalam konflik ini. Baik AS, Israel, maupun Iran sama-sama menanggung biaya besar tanpa hasil yang menentukan.

“Semakin lama perang ini berlangsung, semakin tinggi biaya dan risiko bagi semua pihak, termasuk dunia. Gencatan senjata mungkin terlihat tidak menarik, tetapi itu adalah pilihan terbaik yang tersedia,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement