Kredit Foto: Cita Auliana
Pemerintah meluncurkan delapan kebijakan penghematan nasional sebagai respons terhadap tekanan global, termasuk lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok, guna menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan fiskal.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kebijakan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong efisiensi struktural sekaligus menjaga produktivitas ekonomi.
“Program kebijakan ini disebut dengan 8 butir transformasi budaya kerja nasional dan nanti ditambah dengan kebijakan energi,” ujar Airlangga, dalam konferensi Pers secara daring, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Ia menegaskan, kondisi global saat ini menjadi momentum untuk melakukan perubahan perilaku ekonomi yang lebih efisien.
Baca Juga: ASN Pusat dan Daerah Wajib WFH Setiap Jumat Mulai 1 April
Baca Juga: Pemerintah Target Hemat BBM Rp65 Triliun lewat WFH dan Pembatasan Mobilitas
Baca Juga: Pemerintah Potong Anggaran Mobil Dinas dan Perjalanan ASN hingga 70%, Bisa Hemat Rp130 Triliun!
“Situasi ini bukanlah hambatan, melainkan momentum bagi kita untuk melakukan akselerasi perubahan perilaku yang modern dan efisien,” katanya.
8 Kebijakan Penghematan Pemerintah
Pemerintah merinci delapan kebijakan utama yang menjadi kerangka transformasi tersebut:
-
WFH ASN dan Imbauan untuk Swasta
Pemerintah menetapkan kebijakan work from home (WFH) satu hari per minggu, setiap Jumat, bagi ASN pusat dan daerah.
Sektor swasta juga didorong menerapkan skema serupa secara adaptif melalui regulasi Kementerian Ketenagakerjaan. -
Pembatasan Mobilitas Kendaraan Dinas
Penggunaan kendaraan dinas dibatasi hingga 50%, kecuali untuk operasional penting dan kendaraan listrik, serta didorong penggunaan transportasi publik. -
Pemangkasan Perjalanan Dinas
Perjalanan dinas dalam negeri dipangkas hingga 50%, sementara perjalanan luar negeri dipotong hingga 70%. -
Gerakan Hemat Energi Nasional
Pemerintah mendorong efisiensi energi di kantor dan rumah tangga, termasuk pengendalian konsumsi BBM. -
Penetapan Sektor Prioritas
Sejumlah sektor tetap beroperasi normal tanpa WFH, seperti kesehatan, keamanan, energi, pangan, transportasi, logistik, dan keuangan. -
Implementasi dan Evaluasi Kebijakan
Kebijakan mulai berlaku 1 April 2026 dan akan dievaluasi setelah dua bulan pelaksanaan. -
Refocusing dan Efisiensi Anggaran
Pemerintah mengalihkan belanja dari pos nonprioritas seperti perjalanan dinas, rapat, dan kegiatan seremonial ke sektor produktif dengan potensi efisiensi Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun. -
Penguatan Ketahanan Energi melalui B50
Implementasi biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 ditargetkan menekan konsumsi energi fosil secara signifikan.
Potensi Penghematan dan Stabilitas Ekonomi
Pemerintah memperkirakan kebijakan ini menghasilkan penghematan besar, baik dari sisi konsumsi energi maupun belanja negara.
“Potensi penghematan dari kebijakan work from home ini yang langsung ke APBN adalah Rp6,2 triliun, sementara total pembelanjaan BBM masyarakat berpotensi untuk dihemat sebesar Rp59 triliun,” kata Airlangga.
Selain itu, implementasi B50 diproyeksikan mengurangi konsumsi BBM fosil hingga 4 juta kiloliter per tahun dengan potensi penghematan subsidi mencapai Rp48 triliun.
Sementara itu, refocusing anggaran kementerian dan lembaga diperkirakan mencapai Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun.
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat preventif dan tidak mencerminkan kondisi darurat ekonomi.
“Perlu ditekankan kepada masyarakat bahwa kondisi perekonomian nasional tetap stabil dengan fundamental yang kokoh,” ujar Airlangga.
Ia juga memastikan stok energi nasional dalam kondisi aman serta mengajak masyarakat dan pelaku usaha tetap produktif.
“Pemerintah mengajak seluruh masyarakat dan dunia usaha untuk tetap produktif, berpartisipasi aktif, dan mendukung efisiensi dan transformasi budaya kerja ini,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Advertisement