Trump Ngamuk ke Israel Soal Air Iran, tapi Ancam Hancurkan Fasilitas yang Sama
Kredit Foto: Instagram/Donald Trump
Pernyataan terbaru Donald Trump membuka kontradiksi yang sulit diabaikan di tengah konflik Iran. Ia sempat mengecam serangan terhadap fasilitas air Iran, namun beberapa hari kemudian justru mengancam akan melakukan hal serupa dalam skala lebih besar.
Sikap itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam konflik kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap infrastruktur sipil kini menjadi sorotan karena berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas.
Melansir Axios, Trump dilaporkan marah saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan ke fasilitas desalinasi di Pulau Qeshm. Serangan tersebut dinilai melewati batas proporsionalitas dalam konflik bersenjata.
"Dia ingin memastikan bahwa segala sesuatunya proporsional dalam perang ini. Itulah mengapa dia marah ketika Bibi menyerang pabrik desalinasi di Iran beberapa minggu yang lalu," kata seorang pejabat senior AS.
Fasilitas desalinasi tersebut sebelumnya juga dikonfirmasi terkena serangan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Infrastruktur itu merupakan sumber penting penyedia air bersih bagi masyarakat setempat.
Namun sikap Trump berubah tajam hanya dalam hitungan hari. Ia kemudian mengeluarkan ancaman yang jauh lebih luas melalui media sosial miliknya.
Trump menyatakan bahwa jika kesepakatan damai tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tetap terganggu, maka AS akan mengambil langkah ekstrem. Ancaman itu mencakup penghancuran pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, hingga fasilitas desalinasi Iran.
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran internasional. Infrastruktur air dinilai sebagai objek vital yang tidak boleh menjadi target dalam konflik bersenjata.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa militer AS tetap beroperasi sesuai hukum internasional. Namun ia juga menekankan bahwa tekanan terhadap Iran akan terus dilakukan.
"Pilihan terbaik mereka adalah membuat kesepakatan, atau Amerika Serikat memiliki kemampuan di luar imajinasi mereka." Ujarnya.
Para ahli hukum internasional mengingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas air dapat melanggar hukum humaniter. Aturan seperti Konvensi Jenewa secara tegas melarang penghancuran infrastruktur yang menopang kehidupan sipil.
Organisasi Amnesty International juga mendesak agar ancaman tersebut ditarik. Mereka menilai serangan terhadap fasilitas air dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang jika menyebabkan penderitaan luas.
Di sisi lain, kondisi Iran sendiri sudah berada dalam tekanan berat. Kekeringan panjang membuat kapasitas waduk utama di Teheran dilaporkan turun drastis hingga di bawah ambang aman.
Situasi semakin memburuk setelah serangan udara sebelumnya memicu potensi pencemaran air. Ancaman terhadap fasilitas desalinasi berisiko memperparah krisis yang sudah ada.
Kontradiksi sikap Trump mencerminkan dinamika yang lebih kompleks dalam hubungan AS dan Israel. Kedua sekutu itu tidak selalu berjalan dalam satu strategi yang sepenuhnya sejalan.
Baca Juga: Kelanjutan Perang Iran Akan Ditentukan Akhir Minggu Ini
Seorang pejabat senior AS mengakui bahwa serangan terhadap infrastruktur lebih diarahkan sebagai alat tekanan diplomatik.
"Ekonomi Iran sudah hancur. Mereka ingin ini berhenti juga. Semua pihak harus memberi, tapi kita bisa sampai di sana," katanya.
Di tengah situasi ini, batas antara tekanan militer dan pelanggaran hukum internasional menjadi semakin tipis. Konflik yang terus memanas membuka risiko bahwa sasaran sipil akan semakin sering menjadi korban.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement