Konflik Iran Buka Tabir, Amerika Serikat Enggan Tegaskan Komitmen Melindungi NATO
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat enggan berkomentar banyak terkait dengan komitmennya untuk tetap berada dalam aliansi dari North Atlantic Treaty Organization (NATO). Hal ini menyusul keengganan sejumlah sekutu aliansi untuk ikut terlibat dalam perang dari Washington dan Iran.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth menolak menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap prinsip pertahanan kolektif dari NATO. Ia menyatakan keputusan tersebut berada di tangan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Baca Juga: Bukan di Moskow, Rusia Ungkap Keberadaan Sosok Pemimpin Tertinggi Iran
Hegseth sendiri mengungkapkan kekecewaan terhadap sejumlah negara dalam alinasi seperti Prancis, Italia hingga Spanyol. Hal ini karena mereka tidak memberikan dukungan penuh terhadapnya dalam perang dari Iran dan Amerika Serikat.
"Sejauh menyangkut mereka, itu adalah keputusan yang akan diserahkan kepada presiden. Tapi saya hanya akan mengatakan banyak hal telah terungkap," kata Hegseth.
Ia menyoroti hambatan yang dihadapi oleh pasukannya mulai dari penolakan akses pangkalan militer, pembatasan wilayah udara dan keraguan dalam memberikan dukungan. Menurutnya, kondisi tersebut mempertanyakan esensi dari sebuah aliansi.
"Ketika kami meminta bantuan tambahan atau akses sederhana, pangkalan dan penerbangan lintas wilayah, kami mendapat pertanyaan atau hambatan atau keraguan," kata Hegseth.
Hegseth menyatakan bahwa konflik baru-baru ini telah membuka realitas hubungan dalam NATO. Ia menilai aliansi tidak akan kuat jika anggotanya tidak saling mendukung saat dibutuhkan. Hal ini menandakan adanya sinyal evaluasi terkait denga NATO.
"Kami tidak memiliki aliansi yang kuat jika kami memiliki negara-negara yang tidak bersedia berdiri bersama kami ketika kami membutuhkan mereka. (Trump) hanya menunjukkan hal itu, dan pada akhirnya, itu akan menjadi keputusannya tentang seperti apa bentuknya," kata Hegseth.
Pernyataan ini memicu kekhawatiran terkait prinsip pertahanan kolektif atau Article 5. Prinsip ini menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota dari NATO.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melontarkan kritik keras kepada sekutu-sekutunya yang terdampak krisis energi akibat penutupan dari Selat Hormuz. Kritikan tersebut diberikan karena mereka tak ikut mendukung operasi militer melawan Iran.
Trump menyindir negara-negara yang kesulitan mendapatkan bahan bakar akibat terganggunya pasokan dari jalur tanker minyak tersebut. Ia menyarankan sebaiknya mereka membeli minyak dari Amerika Serikat.
Trump di sisi lain juga mendorong agar sekutunya untuk berjuang sendiri dalam mengamankan pasokan minyak dari Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa pihaknya mungkin tidak akan lagi memberikan bantuan seperti sebelumnya.
"Kumpulkan keberanian yang tertunda, pergilah ke jalur itu dan rebut saja. Kalian harus mulai belajar bagaimana berjuang sendiri," kata Trump.
Trump menilai bahwa sekutunya tidak menunjukkan dukungan dengan terlibat dalam konflik dari Amerika Serikat, Israel dan Iran. Hal ini memicu frustrasi dalam dirinya, yang merasa telah menanggung beban keamanan global tanpa dukungan setara.
Baca Juga: Trump Ngamuk ke Prancis Gegara Pemblokiran Jalur Senjata Amerika Serikat ke Israel
"AS tidak akan ada lagi untuk membantu kalian, sama seperti kalian tidak ada untuk kami. Iran pada dasarnya telah hancur. Bagian tersulit sudah selesai. Carilah minyak kalian sendiri," kata Trump.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Advertisement