Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

NATO Terancam Bubar Akibat Operasi Amerika Serikat di Iran

NATO Terancam Bubar Akibat Operasi Amerika Serikat di Iran Kredit Foto: Reuters/Ints Kalnins
Warta Ekonomi, Jakarta -

Polandia khawatir dengan nasib aliansi dari North Atlantic Treaty Organization (NATO). Hal ini menyusul adanya sinyal perpecahan internal akibat operasi militer dari Amerika Serikat di Iran.

Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk memperingatkan adanya ancaman serius terhadap keutuhan aliansi karena adanya perbedaan sikap anggota terkait dengan operasi militer yang dijalankan oleh Washington ke Teheran.

Baca Juga: Uni Eropa: Konflik Iran-Amerika Serikat Akan Berdampak Panjang

Tusk menilai perbedaan sikap tersebut menjadi ancaman terbesar bagi komunitas transatlantik dari NATO. Menurutnya, awal keruntuhan aliansi tersebut bisa jadi bukan berasal dari musuh eksternal, melainkan dari perpecahan internal.

“Ancaman terbesar bukan musuh dari luar, tetapi disintegrasi aliansi kita yang sedang berlangsung,” ujarnya.

Ia mendesak seluruh anggota aliansi untuk mengambil langkah guna membalikkan tren tersebut. Ia khawatir perbedaan sikap ini dapat menjadi awal retaknya hubungan antar anggota dari NATO.

Diketahui, sejumlah pihak dari kawasan euro mengkritik operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat ke Iran. Kanselir Jerman, Friedrich Merz misalnya, ia mengkritik kebijakan operasi militer dari Amerika Serikat. 

Menurutnya, Amerika Serikat dibuat kebingungan dengan situasi yang tidak bisa diprediksi, hingga mereka tidak memiliki strategi keluar yang jelas dari perangnya dengan Iran.

"Masalah dalam konflik seperti ini bukan hanya bagaimana masuk, tetapi bagaimana keluar. Kita melihatnya dengan sangat menyakitkan di Afghanistan. Kita juga melihatnya di Irak," ujarnya.

Iran menurutnya tampil lebih kuat dari yang sebelumnya diperkirakan. Hal ini terlihat dalam bagaimana mereka hadir dalam negosiasi damai dengan Amerika Serikat. Islamic Revolutionary Guard Corps juga menurutnya turut mempermalukan pihak dari Washington.

"Pejabat Iran jelas bernegosiasi dengan sangat terampil dan tampak jauh lebih kuat dari yang kita kira," kata Merz.

Adapun Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson mengatakan bahwa operasi militer tersebut tak memiliki strategi jelas dalam tujuannya menyerang ke Iran. Ia mengatakan masih belum jelas bagaimana tujuan hingga perang itu akan diselesaikan oleh Presiden amerika Serikat, Donald Trump.

“Saat ini, saya kesulitan melihat adanya strategi yang koheren di balik ini,” ujarnya. 

Trump, atas hal tersebut, menyampaikan ketidakpuasan terhadap sejumlah sekutu dari Eropa Ia menilai beberapa negara tidak memberikan dukungan yang cukup terhadap operasinya di Iran.

Trump bahkan menyatakan kemungkinan menarik pasukan dari sejumlah negara di Eropa. Ia menyebut negara-negara tersebut tidak hadir ketika dirinya membutuhkan dukungan dalam operasinya di Teheran.

Baca Juga: IAEA: Uranium Iran Kemungkinan Masih Tersimpan di Isfahan

Perkembangan hubungan antar anggota aliansi kini menjadi perhatian global di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan konflik yang belum terselesaikan dan perbedaan sikap yang tajam, kini dunia menyorti masa depan soliditas dari NATO.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar