Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Merasa Jijik ke Sekutu, Amerika Serikat Tak Akan Ragu Keluar dari NATO

Trump Merasa Jijik ke Sekutu, Amerika Serikat Tak Akan Ragu Keluar dari NATO Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat menyatakan bahwa pihaknya mempertimbangkan untuk keluar aliansi dari North Atlantic Treaty Orgnization (NATO). Hal ini menyusul keengganan sekutunya untuk ikut serta dalam perangnya melawan Iran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan untuk menarik negaranya keluar dari NATO. Hal ini usai negara anggota aliansi tersebut menolak memberikan dukungan militer, termasuk tidak mengirim kapal untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.

Baca Juga: Amerika Serikat Peringatkan Taiwan: Belajar dari Hong Kong Soal Ambisi China

"Saya akan membahas rasa jijik saya terhadap North Atlantic Treaty Orgnization (NATO)," ungkap Trump.

Atas hal tersebut, ia menyatakan bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk keluar dari NATO. Pernyataan itu mencerminkan kekecewaannya terhadap sekutu yang dinilai tidak memberikan dukungan saat pihaknya membutuhkan bantuan mereka di Iran.

"Oh, tentu saja tanpa ragu. Bukankah Anda akan melakukan itu jika Anda berada di posisi saya?" kata Trump.

NATO diketahui didirikan pada 1949. Ia  selama ini menjadi pilar utama keamanan dengan prinsip pertahanan kolektif yang dikenal sebagai Article 5. Artikel tersebut membuat serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Namun, Amerika Serikat memicu kekhawatiran dengan kengganannya untuk berkomitmen mematuhi aturan terkait, apalagi dengan opsi untuk keluar dari NATO. Para analis menilai hal ini berpotensi memancing agresi dari Rusia.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth menolak menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap prinsip pertahanan kolektif dari NATO. Ia menyatakan keputusan tersebut berada di tangan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Hegseth sendiri mengungkapkan kekecewaan terhadap sejumlah negara dalam alinasi seperti Prancis, Italia hingga Spanyol. Hal ini karena mereka tidak memberikan dukungan penuh terhadapnya dalam perang dari Iran dan Amerika Serikat.

Prancis dilaporkan menolak memberikan izin penggunaan wilayah udaranya ke Amerika Serikat dan Israel. Mereka menolak wilayah udaranya untuk digunakan sebagai jalur pengiriman senjata ke Timur Tengah.

Italia juga melakukan hal serupa. Ia dilaporkan menolak memberikan izin untuk pesawat militer dari Amerika Serikat. Pesawat itu dilaporkan akan digunakan untuk misi di Timur Tengah.

Menurut laporan, negara tersebut menolak untuk memberikan izin pendaratan terhadap sejumlah pesawat bomber yang akan mendarat di Pangkalan Sigonella di Sisilia. Hal tersebut cukup mengejutkan, menyusul kedekatan dari Italia dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Tak Dibantu Soal Iran, Trump Ogah Bantu Lagi Sekutu Amerika Serikat: Carilah Minyak Kalian Sendiri

Spanyol di sisi lain mengambil langkah tegas dengan menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer dari Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles menegaskan bahwa negaranya tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara maupun pangkalan militer untuk operasi yang berkaitan dengan konflik dari Iran dan Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement